Misteri Penembakan Horta

A License To Kill
(Misteri Penembakan Horta)

Wednesday, 20 February 2008 00:03 WIB WASPADA Online

Oleh Djoko Sugiarno

Susah juga rupanya menjadi presiden di negeri mini yang terbelit krisis. Negara seukuran kabupaten yang belum lama merdeka itu masih dililit krisis parah. Angka pengangguran yang mencapai 70 persen itu menandakan belum jalannya roda pemerintahan secara baik. Krisis politik masih mendominasi pemerintahan dan berujung penembakan sang presiden. Sampai saat ini, Jose Ramos Horta masih dirawat di Darwin, dan beberapa pecahan proyektil masih bersarang di paru-parunya, menunggu saat yang tepat untuk dioperasi.

Penembakan itu sendiri berlangsung penuh misteri. Pengamanan dalam negeri yang masih menggunakan sistem dan personil pasukan asing, seharusnya mampu melindungi Horta dari serbuan yang terkesan brutal itu. Kronologi penembakan itu sama sekali berbeda dengan penembakan Paus, atau Anwar Sadat, atau Kennedy, atau Benazir yang pengamanannya sudah sangat standar. Dalam kasus Horta, penembak sampai bisa mendekati korban dengan menggunakan dua mobil. Bagaimana mungkin dua mobil musuh bisa sedekat itu dengan seorang presiden sampai pada jarak tembak dan menembak presiden tepat sasaran. Di sisi lain, pasukan pengaman presiden itu menunjukkan profesionalitas yang tinggi, dengan kemampuannya menembak musuh sampai mati di tempat. Bagaimana sampai pasukan itu kecolongan dan terkesan membiarkan musuh masuk dan berbuat, untuk kemudian tidak membiarkannya ke luar. Secara sekilas, terlihat adanya sesuatu yang tidak logis yang membutuhkan uraian yang tidak sedikit untuk memahaminya.

Pasukan Asing
Pada detik penembakan itu, Horta dan Timor Leste masih dijaga oleh pasukan keamanan PBB yang tentunya dengan standar profesionalitas internasional. Kalau sampai pasukan itu kecolongan, ada dua kemungkinannya, lengah atau memang sengaja dibiarkan masuk. Kedua kemungkinan itu harus ditelusuri secara detil. Pertama, kalau memang lengah, harus ada klarifikasi dari otoritas PBB di Timor Leste untuk meminta maaf kepada rakyat Timor atas kelengahan ini dan menggantinya dengan pasukan yang tidak lengah. Kalau perlu dengan menindak dan memberi sanksi kepada personilnya, bukannya menambah pasukan sesukanya. Kedua, kalau itu memang sengaja dibiarkan masuk, masih ada dua kemungkinan hipotesisnya. Diperangkap untuk disergap atau diberi misi untuk menghabisi nyawa Horta.

Kalau memang untuk disergap, ini tentu memang skenario bagus dan terbukti mampu melumpuhkan dan membunuh Alfredo Reinado, tokoh utama gerilyawan anti pemerintahan. Tetapi mengapa sampai nyaris mengorbankan nyawa Horta. Sementara jika Reinado memang diberi License To Kill, skenario ini gagal atau tidak 100 persen berhasil. Buktinya, malah dirinya yang mati tertembak, sementara Horta belum sampai meninggal. Yang jelas, tragedi penembakan itu menunjukkan adanya kesenjangan logika yang terbuka dan menganga. Atau bisa jadi merupakan pemaparan fakta bahwa standar pengamanan internasional sudah demikian rapuhnya jika dibandingkan dengan profesionalitas gerilyawan. Ini memang sejalan dengan fakta lain seperti kegagalan Amerika mengolah keamanan Irak, dan kegagalan panjang PBB menyelesaikan krisis Palestina. Ini baru dari sisi pasukan pengamanannya. Kita yakin, jajaran intelejen negara manapun saat ini sedang sibuk memencet keyboard komputernya untuk menganalisis kasus ini dari berbagai segi.

Analisis dan Hipotesis

Siapa pun tahu bahwa Timor Leste adalah negeri mini yang baru merdeka. Seperti anak ayam kate yang baru menetas. Kecil dan lemah. Tetapi siapa pun tahu bahwa jika dijaga dan dipelihara dengan benar, anak ayam kate ini akan menjadi ayam kate bagus yang bisa bernilai tinggi. Timor Leste jika dijaga dan diberi iklim dan ruang yang cukup untuk berkembang menjadi negeri makmur karena adanya timbunan kekayaan alam (minyak) yang belum terolah sama sekali. Siapa pun akan meneteskan air liurnya untuk bisa menguasai emas hitam yang jumlahnya sungguh menggiurkan itu. Kondisi ini tak jauh beda dengan Afganistan yang compang camping tetapi memiliki jalur emas hitam paling besar di Laut Hitam. Karena kesamaan ini, maka ada kemungkinan Timor juga akan diperlakukan seperti dunia memperlakukan Afganistan.

Sejarah Timor Leste baru saja dimulai dengan tahap awal yang kacau, dilanjutkan dengan krisis pemerintahan yang serius, berpuncak dengan tragedi upaya pembunuhan kepala pemerintahan yang mengundang campur tangan asing untuk masuk lebih jauh dalam kehidupan politik dan sosial Timor Leste. Negara maju yang paling berkepentingan dengan Timor Leste adalah Australia. Endapan minyak dengan stok yang relatif besar di selat Timor itu menjadi kalkulasi utama mengapa Australia sangat bersemangat untuk bisa kerja di Timor. Karena itu, dapat dimaklumi jika reaksi awal Australia menghadapi tragedi itu adalah menambah jumlah pasukannya di Timor, mirip seperti Amerika yang bernafsu terus menambah pasukannya di Irak. Saat ini, jumlah pemberontak pengikut Alfredo Reinado memang terdata hanya 600 orang saja. Tetapi siapa yang berani menjamin bahwa jumlah itu tidak bertambah karena simpati rakyat.

Sayangnya, kemerdekaan Timor dari Indonesia menyisakan hubungan yang kurang enak, sehingga tidak bisa disalahkan jika Timor Leste berkiblat ke Australia. Baik Horta, Xanana maupun Reinado, semuanya didukung Australia. Kalau Australia mau membela Horta, tentunya tidak begitu sulit menangkap Reinado, karena keluarganya tinggal di Australia. Tetapi kelihatannya, Australia tidak ingin membasahi tanahnya dengan darah orang Timor. Dia memilih ‘membunuh’ Reinado di tanahnya sendiri. Kesan konflik memang diperlukan untuk legalisasi masuknya milisi Australia lebih jauh di Timor Leste. Selebihnya, sejarah Timor akan mengikuti pola yang sudah ada. Palestina, Afganistan atau Irak.

Memang, kekayaan tidak selalu membuat kesejahteraan. Simak saja, bagaimana Indonesia yang kaya raya hanya bisa menikmati tetesan minyak dari perut buminya. Bagian terbesar diminum oleh ndorondoro Londo yang mengusahakannya. Busang yang kaya emas, menciptakan bencana lingkungan dan kemelaratan rakyat di sekitarnya. Irak dan Afganistan jadi compang camping karena kekayaan miyaknya. Dan kini Timor Leste sedang memasuki tahap awal krisis panjang yang akan dilalui rakyatnya. Salah mengurus konflik hanya akan menciptakan sejarah baru dengan pola lama. Apa pun yang terjadi, cukup bijaksana jika NKRI tidak ikut cawe-cawe dalam urusan konflik internal Timor Leste. Biarlah Xanana, Horta dkk berurusan dengan pasukan multi nasional pimpinan Australia yang barangkali memiliki SIM (Surat Ijin Membunuh-A License To Kill)  yang dilegalisir oleh PBB dan NATO.

Penulis adalah Pengamat Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: