Berebut Ruang Pemikiran

Oleh DEDI SAHPUTRA

Betapa akhir-akhir ini kita disajikan tampilan isu wacana beranekaragam yang sangat deras datangnya. Silih berganti seolah tak menyisakan sedikitpun waktu bagi kita untuk rehat sejenak-lepas untuk tidak memasukkan isu-isu tersebut ke alam pemikiran kita.

Pertama, saya meletakan berbagai peristiwa tidak terjadi sebagai sebuah bentuk yang ‘polos’. Tapi terjadi untuk sebuah kepentingan, atau kepentingan memanfaatkan sebuah peristiwa. Coba kita urut dengan memenggal bagian sejak akhir Mei 2008. Ketika pemerintah mensosialisasikan rencana kenaikan harga BBM. Aksi demo di mana-mana. Mengalir bagaikan air di saluran bendungan yang ‘petakan’, wacana ini kemudian tidak saja menyangkut masalah ekonomi semata. Tapi ada ruang politis yang bermain dan perilaku budaya yang ikut nimbrung.

Pada saat yang sama ada isu pembubaran Ahmadiyah yang sudah cukup lama disuarakan.Bagaikan dua saluran air yang bersisian, kedua isu ini berjalan beriringan. Terkadang arus yang satu lebih deras, terkadang yang lainnya yang lebih kencang.

Tapi seketika isu ini seperti buyar konsentrasinya ketika terjadi peristiwa FPI dan AKK-BB di Monas. Ruang pemikiran publik kita yang umumnya tidak terlalu luas ini kemudian sontak beralih. Soal kekerasan oleh FPI, provokasi Ahmadiyah, siapa Munarman yang tiba-tiba menjadi tokoh sentral. Ada juga pistol dari kelompok AKK-BB yang belakangan diketahui adalah seorang polisi.

Peristiwa yang kemudian menjadi momen diterbitkannya SKB ini kemudian menjadi magnet yang sangat kuat bagi perhatian publik. Hingga untuk sekian lama, ruang pemikiran publik dipenuhi akan hal-hal yang menyangkut SKB Ahmadiyah ini.

Tapi popularitas SKB Ahmadiyah inipun seketika menurun ketika muncul agedan baru dalam kasus suap jaksa dalam kasus BLBI II. Kasus yang menyeret para petinggi kejaksaan ini Apalagi ada rekaman pembicaraan yang sangat meyakinkan adanya ‘selingkuh hukum’ di antara oknum petinggi kejaksaan dengan seorang ‘agen’.

Namun belum lagi bibir masyarakat kering membicarakan masalah ini, secara tiba-tiba aksi besar mahasiswa terjadi. Seolah tidak rela diabaikan dalam ruang publik oleh bermacam peristiwa hangat, mahasiswa kembali berakting.

Aksi unjukrasa besar terjadi. Pagar DPR RI di Jakarta dijebol, mobil dibakar. Aksi ini direkam televisi dan ditayangkan berulang-ulang. Meski kedengaran aneh, namun mahasiswa mengatakan mereka tidak anarkis. Polisipun kemudian menangkap orang yang disangkakan sebagai dalang aksi tersebut.

Entah apa lagi aksi selanjutnya. Tapi begitulah, ruang pemikiran publik diperebutkan bagaikan piala bergilir, dari satu tangan ke tangan yang lain.

Apa sebetulnya yang diinginkan dengan mendapatkan ruang pemikiran publik ini? Malah terkadang harus ada darah yang tertumpah dalam kompetisi ini.

Ya. Karena fikiran adalah satu-satunya referensi internal yang kita miliki yang akan merasionalisasikan sikap, tindakan dan pilihan-pilihan kita. Pikiran juga yang memberi jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul. Dan rekomendasi dari pikiran kita akan sangat tergantung dari pengalaman empiris yang dimiliki.

Dalam alam demokrasi pemikiran kolektif adalah sesuatu yang diagungkan. Maka semakin banyak kecenderungan atas sebuah pemikiran, maka semakin kuat satu bagian tersebut. Itulah yang terjadi, orang perlu merebut ruang pemikiran publik untuk menjadi rekomendasi bagi pilihan-pilihannya.

Ketika Afganistan dan Irak diserang oleh Amerika dan sekutunya, sebagian besar masyarakat Amerika membenarkannya hingga mengantarkan Bush ke periode kedua kepemimpinannya. Serangan terhadap WTC, dan berbagai serangan lain yang ditujukan kepada warga Amerika dan laporan tentang adanya senjata kimia biologis di Irak telah merasionalisasikan serangan terhadap Irak.

Dalam konteks berebut alam pemikiran ini, peristiwa tersebut diurut terbalik. Karena berbagai kepentingan, maka perlu menyerang Afganistan dan Irak, dan untuk itu maka diperlukan alasan untuk merasionalisasikann ya. Maka muncullah peristiwa-peristiwa tersebut di atas untuk memenuhi ruang pemikiran publik Amerika dengan kekhawatiran.

Ruang pemikiran publik sebetulnya hanyalah pintu dari ruang hati atau kalbu. Karena setiap hasil aktifitas dari fikiran manusia, selanjutnya akan bersemayam di dalam kalbu. Padahal kalbu itu adalah tempat besemayamnya dzat yang maha tinggi, seperti  sebuah hadis qudsi: “Wadah di ketinggian langit dan dasar bumi tidak mampu menampung dzat-Ku, begitupula bumi, langit bahkan Arasy sekalipun. Akan tetapi kalbu seorang Mukmin mampu menanggung-Ku. Bila kalian hendak mencari-Ku, carilah Aku di kalbu orang-orang Mukmin”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: