Belajar memerangi kapitalisme ala Hugo Chavez

Belajar dari Venezuela

TAK selamanya kapitalisme menang. Tengoklah Amerika Latin yang seakan kapok dengan kapitalisme ganas. Kemenangan kembali kekuatan keadilan sosial atau sosialisme di Venezuela, membuktikan rakyat kawasan itu emoh dengan kapitalisme yang ganas.

Dengan kekurangan dan kelemahannya, toh Presiden Venezuela Hugo Chavez Minggu (15/2) berhasil meraih kemenangan dalam referendum amandemen konstitusi pembatasan masa jabatan. Kemenangan ini memungkinkan Chavez tetap berkuasa selama dia mengalahkan saingan-saingannya dalam pemilu di negara Amerika Latin itu.

Sejauh ini, sudah 54% pemilih menyetujui amandemen konstitusional untuk menghapus batas jabatan presiden, gubernur, anggota parlemen dan walikota hanya dua kali periode masa jabatan. Kini Chavez boleh mencalonkan diri sebagai presiden dalam pemilu 2012. Chavez sudah berkuasa sejak 1992.

Chavez yang berhaluan sosialisme demokrat itu, menyatakan kemenangannya dihadapan ribuan pendukungnya yang memadati jalan-jalan di sekitar istana kepresidenan. Kembang api menerangi langit Caracas. Seorang pria berjalan di kerumunan massa membawa gambar Chavez dengan tulisan “Selamanya”.

Dengan 94% suara referendum sudah dihitung, hasil resmi menunjukkan amandemen konstitusi disetujui dengan suara 56% berbanding 46%. Para pemimpin oposisi menerima hasil referendum itu.

Tibisay Lucena, Ketua Dewan Pemilihan Nasional, mengatakan, sejumlah 67% dari sekitar 16 juta pemilih memberikan suaranya dalam referendum itu. Chavez pernah kalah dalam referendum serupa pada Desember 2007.

Amandemen konstitusional itu memungkinkan semua pejabat pemerintah mencalonkan diri untuk dipilih kembali sebanyak yang mereka inginkan apabila memenangi pemilu. Chavez mengajukan amandemen ini karena ingin berkuasa lebih lama dalam misinya menjadikan Venezuela yang sungguh sosialis. Waktu sepuluh tahun dinilai Chavez terlalu singkat.

Konon, Chavez ingin berkuasa sampai tahun 2049 kala dia berusia 95 tahun.

Dengan krisis global yang melanda Amerika Latin, termasuk Venezuela, saat ini, Chavez tidak berani mengumumkan kebijakan baru seperti biasanya.

Chavez hanya bertekad memerangi kejahatan dan korupsi serta mengonsolidasikan program sosialisnya tahun ini. Harga minyak yang turun dan perekonomian memburuk membuat manuver Chavez terbatas.

Oposisi memperingatkan, langkah Chavez untuk berulang kali mengikuti pemilu bisa membuatnya menjadi diktator. Oposisi yang didukung gerakan mahasiswa gagal dalam upaya mencegah Chavez yang dicap gila kekuasaan.

Gerakan mahasiswa Venezuela kini elitis dan kapitalistis, bahkan diduga didukung Amerika, sehingga rakyat tak mendukung gerakan mahasiswa tersebut.

Ini pelajaran berharga bagi mahasiswa Venezuela bahwa gerakan prokapitalisme mereka ternyata dimentahkan oleh rakyat yang merindukan keadilan sosial. Bagaimana dengan Indonesia? Pemilu mungkin bisa menjawabnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: