PEREBUTAN DAERAH PEMILHAN LIMA JAWA TENGAH

Calon penerus pimpinan PDI Perjuangan, Puan Maharani, tertantang untuk menaklukkan Senayan. Masalahnya, putri Megawati ini harus menundukkan sejumlah pesaing berat di daerah pemilihannya, termasuk politisi senior PKS, Hidayat Nur Wahid. Mampukah dia?Saat ini, Puan tercatat sebagai salah satu caleh PDIP dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah Lima yang meliputi Solo, Sukoharjo, Boyolali, dan Klaten. Selain Hidayat, kompetitor lainnya antara lain Zainal Ma’arif (Partai Demokrat), Icuk Sugiarto (PPP), Suhardi (Partai Gerindra),

Dita Indah Sari (PBR) dan aktris Tamara Geraldine (PDS). Sementara dari kalangan internal, Puan juga akan bersaing dengan anggota DPR Ario Bimo dan Nusyirwan Soejono.

Puan sendiri mengaku optimistis bila lolos dari persaingan ketat ini. Dirinya merasa waktu satu tahun terakhir bersosialisasi di daerah tersebut sudah cukup menjadi modal kampanye. Apalagi, ia juga merupakan salah satu keturunan tokoh proklamator sukarno.

“Saya merasa harus merekatkan atau menyolidkan suara PDIP yang sudah ada di Jateng. Kehadiran saya diharapkan bisa menjadi penyambung, wakil dari ibu Megawati Soekarnoputri,” ujar Puan

Menurutnya, kiprahnya di Jawa Tengah bukan barang baru. Ia tercatat sebagai Korwil PDIP untuk Jawa Tengah. Tidak hanya itu, ia juga mengaku terlibat dalam sejumlah pilkada yang memperebutkan kursi gubernur ataupun bupati di daerah yang terkenal dengan basis nasionalis ini.”Kehadiran saya di Jateng sudah cukup matang dan membumi, makanya saya siap, sudah tahu medannya dan tahu harus bagaimana,” cetus Puan.

Melihat ada beberapa nama tenar yang ikut bertarung di Jateng V, Puan mengaku tidak gentar. Baginya, semua caleg di dapil tersebut adalah lawan berat. Terlebih saat dicalonkan di wilayah itu, ia tidak mengetahui sebelumnya siapa yang bakal menjadi pesaingnya. “Persaingan ini, persaingan sehat. Saya berusaha untuk bisa mewaspadai tokoh atau calon yang ada,” katanya.

Karena itu, dirinya sengaja menyiapkan strategi khusus untuk memenangi perebutan kursi DPR. Ia menggandeng semua caleg PDIP yang terdaftar dalam Jateng V itu bersatu dalam melakukan sosialisasi kampanye. Artinya, selain wajah caleg PDIP lain, tampang Puan juga akan tampil dalam setiap alat peraga kampanye seperti spanduk, baliho dan poster.

“Saya dianggap sebagai ‘wajah partai’. Oleh karena itu, di Jateng diperlukan gotong royong dan legowo pada teman-teman yang dianggap berpotensi supaya suara PDIP solid. Mereka menyadari dan mengakui hal itu,” jelas Puan.

“Kemarin 2004 kita dapat 3 kursi, dan berharap bisa mendapat kurang lebih 200.000 suara,” prediksi Puan.

Cukupkah modal yang dikantongi Puan? Pengamat politik dari Universitas Sebelas Maret, Solo, Adi Sulistiyono berpendapat kemenangan Puan akan terletak pada mesin politik PDIP di daerah tersebut. “Di dapil Jateng V itu siapapun calonnya PDIP pasti menang, karena di situ adalah basis suara PDIP. Kunci kemenangan Puan sebenarnya ada ditangan Ketua-ketua DPD dan Ketua-ketua DPC PDIP di Jateng V,” analisis Adi.

Ia menjelaskan massa Moncong Putih di dapil tersebut cukup solit. Sehingga siapapun lawan politiknya cukup sulit untuk mencuri dukungan dari pemilih PDIP. “Massanya PDIP itu jelas tidak bisa dimasuki oleh calon lain seperti Hidayat Nur Wahid. Jadi saat ini Puan hanya harus melakukan intervensi yang kuat kepada DPD dan DPC PDIP untuk mengkampanyekan dirinya,” tegas Adi yang juga tercatat sebagai Guru Besar Fakultas Hukum UNS ini.

Apalagi, lanjut Adi, sudah ada instruksi dari PDIP untuk mengamankan Puan. Karena itu, semua Ketua DPD dan DPC PDIP Jateng akan menggiring semua konstituen memilih ‘putri mahkota’ Megawati tersebut. “Caleg-caleg di bawah Puan sudah diinstruksikan seperti itu. Kalau Puan tidak menang maka Ketua DPD dan DPC PDIP itu pasti akan mendapatkan sanksi,” tandasnya.

Survei Lembagai Survei Indonesia (LSI) pada November 2008 silam menunjukkan angka elektabilitas Puan masih jauh di bawah Hidayat dan Icuk Sugiarto. Puan hanya mendapatkan angka 2 persen sementara Hidayat unggul dengan angka 7 persen. Bila hasil survei ini menjadi rujukan tentu posisi Puan belum cukup aman.

Strategi PDIP yang menggelar dua hajat politik nasional di Solo yakni peringatan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober serta Rakernas V PDIP tentunya tidak lepas dari menyolidkan dukungan untuk Puan. Apalagi, Puan juga memang tampil cukup dominan dalam dua event tersebut. Meski demikian, Puan beserta mesin politiknya tetap tidak boleh lengah. Mengamankan konstituen dengan menggerakkan mesin partai adalah cara yang lumayan ampuh di samping sosialisasi besar-besaran dalam kampanye terbuka Maret mendatang.

Pertarungan Dapil Jateng V ini mau tidak mau akan menjadi pertaruhan kekuatan mesin PDIP pada tingkat lokal. Dan bila Puan sampai gagal melaju ke Senayan maka efek politiknya akan sangat besar dalam menjaga kelangsungan trah politik Soekarno

28/10/2008 16:03
Jakarta – Khawatir konstituennya diserobot parpol lain, PDIP mengerahkan segenap kekuatan untuk mengamankan basis massanya. Di Solo, Puan Maharani, caleg nomor 1 di wilayah itu, memimpin langsung hajat pengerahan massa berkedok peringatan Sumpah Pemuda.Adanya kekhawatiran ini memang wajar bila dirasakan elit PDIP. Daerah pemilihan Jawa Tengah V yang meliputi Surakarta, Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo itu diperkirakan akan terjadi persaingan sengit antar parpol. Di dapil ini, Puan ditantang oleh Hidayat Nur Wahid (PKS), Zaenal Maarif (Partai Demokrat), Icuk Sugiarto (PPP), dan Dita Indah Sari (PBR).

Karena itu, lumrah bila PDIP show force dan langsung menampilkan Megawati sebagai ikon politik utama. Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi DPP PDIP, Daryatmo Mardiyanto menjelaskan kegiatan ini akan diramaikan dengan kirab mengusung 28.000 bendera Merah Putih ke Alun-alun Utara Kraton Kasunanan Solo. Acara puncak tentu saja akan dipegang Megawati dengan memberi pidato politik.

Tidak hanya itu, Puan Maharani pun akan sejenak tampil memberi pidato. Setelah itu, akan disambung dengan aksi teaterikal ‘Mega Kembali’ dan penaikkan balon statis PDI Perjuangan.

Kegiatan ini, lanjut Daryatmo, merupakan momentum dimulainya sosialisasi nomor urut parpol, yakni 28. Sebanyak 28 ribu bendera Merah Putih akan berkibar di alun-alun Kota Solo. Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini akan menjadi momentum dimulainya secara resmi sosialisasi nomor urut itu.

Pengamat politik Muhammad Qodari menilai acara ini memang sebagai unjuk kekuatan PDIP menyambut Pemilu. Sebab, ‘Moncong Putih’ memiliki basis yang kuat di daerah ini.

“Saya kira pemilihan Solo karena memang basisnya PDIP di sana. Itu kampung halaman mereka,” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer itu  , Selasa (28/10).

Menurut Qodari, basis massa PDIP memang berada di daerah-daerah, terutama di Lampung dan Bali. Namun mantan peniliti CSIS ini mengungkapkan kadar basis pendukung terkuat PDIP ada di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

“Simpelnya, PDIP jika dapat memenangkan Pulau Jawa, akan memenangkan Indonesia,” ujarnya.

Senada dengan Qodari, analis dari LIPI Ikrar Nusa Bhakti melihat PDIP memang sengaja memilih Solo karena basis massa pendukungnya tidak perlu diragukan lagi. “Paling tidak, itu bisa mempertahankan basis dukungan dan kalau bisa bertambah. Jika sama dengan 2004 percuma saja. Karena itu artinya PDIP tidak beranjak dari perolehan suara sebelumnya,” nilai Ikrar.

Meski demikian, lanjut dia, perhelatan ini juga dapat dimaksudkan untuk mengamankan kursi Puan. Sebab, pesaing-pesaing cucu tokoh proklamator itu merupakan politisi yang cukup tenar.

“Kelihatanya memang itu strategi PDIP, di mana Jateng V tidak sedikit tokoh partai yang bertarung. Bicara popularitas, Puan berada di bawah Dita Indah Sari, apalagi Hidayat Nur Wahid,” duga Ikrar.

Mau tidak mau, PDIP memang tidak bisa menafikkan persaingan ketat dalam merebut pengaruh di Jawa Tengah. Apalagi, Hidayat pun sudah digaungkan PKS sebagai nominator capres. Artinya, masing-masing caleg nomor 1 di daerah ini sudah saling berebut simpati dan mempopulerkan nama dengan berbagai cara.

Mengamankan Puan adalah jalan yang wajib dipilih Megawati untuk meneruskan trah politik keluarga besar Soekarno. Kalau tidak segera ‘diamankan’, bisa-bisa pilihan menunggu pesta demokrasi berikutnya pada 2014 adalah pil pahit yang harus diterima. [Habis/L4/I4]

02/02/2009 – 15:14
Prabowo, Berpolitik Bak Berperang
Dalam berpolitik, Prabowo Subianto membawa ilmu perang. Dia tahu hitung-hitungan memanfaatkan peluang. Bergabungnya Permadi ke Partai Gerindra hanyalah salah satu bukti keampuhan mesin politik Prabowo.

Selama ini Prabowo terkesan sebagai kelompok (mantan) anggota TNI yang tidak pluralis. Otomatis, ia berseberangan dengan kelompok nasionalis. Prabowo dianggap sedang melanggengkan perjuangan almarhum Sumitro Djojohadikusumo, seorang sosialis. Almarhum ayahnya dikenal sebagai salah seorang pembangkang kuat terhadap Soekarno.

Jadi sepertinya mustahil Prabowo bisa bergandengan tangan dengan pendukung utama Soekarno seperti Permadi. Namun dengan keberhasilannya menggaet Permadi, semua mispersepsi tentang Prabowo berubah.

Aksinya ini menepis keraguan bahwa ia bukanlah seorang nasionalis. Apalagi Permadi sendiri yang menegaskan, ternyata Prabowo lebih Soekarnois ketimbang mereka yang sudah lama dia kenal sebagai Soekarnois, termasuk Megawati Soekarnoputri sekalipun.

Permadi memang bukan politikus ‘papan atas’. Dia tidak menduduki jabatan struktural yang ikut menentukan kebijakan dan arah politik DPP PDI-P. Di DPR-RI, dia juga bukan salah satu pimpinan kolektif. Di Komisi I yang membidangi masalah luar negeri dan keamanan, Permadi hanya seorang anggota biasa. Permadi hanyalah satu dari 550 anggota parlemen periode 2004-2009.

Namun Permadi merupakan salah satu ikon politikus nasionalis di Indonesia. Jadi yang berhasil direbut Prabowo bukanlah Permadinya, melainkan salah satu ikon kelompok nasionalis. Dan tentu saja Permadi punya pendukung dan pengaruh, betapapun besar-kecilnya.

Permadi boleh jadi satu-satunya politikus pengikut Soekarno yang sangat fanatik. Kefanatikannya terhadap Bung Karno tidak membabi buta. Tapi dia tidak punya kekhawatiran sama sekali berbicara dan membela ajaran-ajaran Soekarno – sekalipun situasinya tidak kondusif. Ia tahu kapan waktu yang tepat membela sang Proklamator itu. Begitu juga bagaimana mengoreksi orang yang mengaku-ngaku Soekarnois.

Terhadap Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri yang merupakan anak biologis Soekarno, Permadi punya sikap sendiri. Dia tidak menjual ke-Soekarno- annya itu kepada Megawati. Waktu anak Bung Karno itu menjadi Presiden RI (2001-2004), Permadi tidak meminta jabatan.

Mega yang dia dukung sudah jadi Presiden, tapi Permadi tetap dengan ciri khasnya. Penampilan Permadi tidak berubah. Tetap sederhana dengan khas baju hitam-hitam yang sudah dikenakannya hampir 40 tahun. Permadi terkesan menjaga jarak dengan Megawati. Ia sepertinya khawatir, anak Bung Karno yang sudah berada di puncak kekuasaan pada waktu itu, bisa membuat kekeliruan hanya karena memberinya perlakuan khusus.

Memang kepindahan Permadi ke kubu Prabowo bisa memunculkan berbagai interpretasi. Misalnya, Prabowo memang sedang menggembosi Megawati atau kubu nasionalis.

Atau, boleh jadi juga PDI-P bersyukur karena anggota seperti Permadi, tidak lagi dibutuhkan oleh Lenteng Agung. Dia sudah tidak diperlukan lagi oleh PDI-P sebab sudah masuk kategori politikus yang out going generation. Sehingga bagi PDI-P dan Megawati, kepergian Permadi justru membuka regenerasi dan penyegaran. Tidak akan merugikan.

Namun yang menjadi persoalan, kepindahan Permadi terjadi di saat Megawati sedang mengumpulkan pendukung sebanyak mungkin. Jika saja kepindahan itu terjadi tahun lalu atau sebelum Rakernas PDI-P di Solo baru-baru ini, persoalannya mungkin akan berbeda.

Perpindahan Permadi sekarang tidak pantas disebut sebagai sebuah pukulan. Bagi kubu Megawati – jika disamakan dengan dinas ketentaraan, kepindahan Permadi bisa mirip dengan sebuah desersi, pengkhianatan.

Dalam situasi seperti sekarang, PDI-P sedang mengumpulkan berbagai kekuatan mulai yang terkecil sampai yang terbesar. Dari tenaga manusia, uang, konsep, ide dan pengalaman. Betapa pun rapuhnya kekuatan, sebisa mungkin jangan ada anggota yang melakukan disersi.

Mengapa? Sebagai wakil rakyat yang sudah dua periode duduk di DPR-RI, Permadi punya pendukung, konstituen. Berpindahnya Permadi bisa ikut mendorong para pendukungnya ikut pindah juga ke Gerindra. Bisa jadi mereka yang belum menjadi pendukung Megawati pun berpikir seribu kali untuk bergabung dalam kubu Megawati.

Dalam masa kampanye, Permadi bisa mengkampanyekan kepindahannya itu secara positif bagi kepentingan Gerindra. Permadi bisa membuat pencitraan baru bagi Prabowo dan Gerindra.

Perpindahan Permadi tidak bisa dilihat secara sederhana. Tidak sama dengan memindahkan gelas kosong di atas meja ke tempat cuci piring. Sedikit atau banyak jumlah yang ikut pindah bersama Permadi tetap merupakan sebuah kerugian bagi Megawati.

Pemilu 2009 agaknya memang punya warna tersendiri. Persaingan antar partai bakal marak. Perkawanan dan permusuhan, tipis sekali perbedaannya. Atau seperti pepatah tua dalam kehidupan tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Yang abadi hanya kepentingan. Dan itulah yang terjadi dalam kasus perpindahan Permadi ke Gerindra. [I4]

Puan Penerus Dinasti Bung Karno?

– Jasad Bung Karno boleh dikubur, namun semangat nasionalismenya tetap hidup di hati pengikutnya. Puan Maharani, wakil generasi ketiga proklamator itu, kini terpanggil untuk menyalakan kembali semangat itu. Ia bahkan siap merebut kursi kekuasaan pada 2014.

Saat ini Puan tercatat sebagai salah satu ketua PDI Perjuangan, parpol yang dipimpin sang ibunda. Selain itu, ia juga melaju dalam pertarungan calon anggota legislatif dari daerah pemilihan Jawa Tengah V meliputi Solo, Sukoharjo, Boyolali, dan Klaten.

Di wilayah itu, Puan bersaing dengan Hidayat Nur Wahid (PKS), Icuk Sugiarto (PPP), Zaenal Maarif (Partai Demokrat), aktris Tamara Geraldine (PDS) dan Dita Indah Sari (PBR).

“Tentu saja selain ketua parpol, orang ingin menjadi capres atau cawapres. Tetapi harus mengukur diri sendiri,” ungkap Puan saat ditanya mengenai mimpi dalam karir politiknya.

Menurutnya, rencana itu tetap tidak ingin dilakukan dengan grasa-grusu. Puan mengaku tetap akan menanyakan kepada konstituen Moncong Putih dan keluarganya. “Tentunya mereka ingin tahu lagi apakah Puan care atau tidak. Ini tanggung jawab saya dan tantangan saya untuk menunjukkan hal itu. Puan itu sudah punya pengalaman,” ujarnya.

Baginya, usia bukanlah sebuah ukuran kematangan berpolitik. Ia meyakini pengalaman malang melintang di dunia perpolitikan sudah lumayan banyak. Puan mengaku sudah ikut merasakan pahit getirnya dalam partai beraliran nasionalis ini sejak peristiwa penyerbuan kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996 silam.

“Semua orang bisa mendapatkan pendidikan formal S1 tapi pengalaman seperti tadi belum tentu yang lain punya,” jelas Puan.

Karena itu, bila dirinya lolos sebagai anggota legislatif pada periode 2009-2014 maka ia mengaku siap maju sebagai capres pada pemilu selanjutnya. “Saya pikir saya siap untuk maju sebagai capres pada 2014,” tegas Puan.

“Saya tentunya tidak hanya ingin sebagai anggota DPR saja, tapi punya tujuan yang lebih terarah dan besar dari ini. Tapi ada mekanisme di partai, biar hidup mengalir seperti air. Saya percaya garis tangan,” jelasnya.

Tetapi di mata analis politik dari Universitas Indonesia, Abdul Gafur Sangadji, apa yang dimiliki Puan masih kurang. Untuk menjadi Ketua Umum PDIP menggantikan Megawati, Puan masih dianggap belum mumpuni. Karena itu, Puan diminta menambah invetasi politik terlebih dulu.

“Kalau tokoh muda yang lain mempunyai pengalaman politik. Kalau Puan tidak ada. Jadi harus ciptakan kemungkinan di legislatif. Ini bukan persoalan keturunan, tapi investasi dan kontrak politik. Apakah puan memiliki investasi politik yang memadai,” ungkap Gafur.

Dirinya mengusulkan lebih baik Puan menunda terlebih dahulu keinginannya untuk maju sebagai capres dalam 5 tahun mendatang. Sebab, bila terpilih menjadi anggota parlemen maka Puan dituntut untuk memosisikan diri dan membangun citra sebagai anak muda yang siap menjadi pemimpin. Sementara PDIP di sisi lain juga diharap dapat lepas dari bayang Megawati.

“Puan masih belia dalam politik. PDIP harus keluar dari mainstream Megawati. Jika tidak, regenerasi di PDIP mandek. PDIP hanya partai keluarga. Padahal parpol tidak bisa didominasi oleh ras atau keluarga. Ini bahaya,” papar Gafur.

Ia menambahkan 5 tahun menimba ilmu di parlemen tidaklah cukup menjadi jaminan untuk maju sebagai capres. Apalagi, Puan masih dianggap kerap berlindung dari pesona Megawati.

“Jadi harus realistik. Belum tentu dia bisa memaksimalkan jabatannya. Karena belum punya karisma yang kuat. Belum punya kekuatan personal yang bisa dijadikan kekuatan alternatif. Butuh 5 hingga 10 tahun ke depan. Jadi perlu banyak belajar,” kata Gafur.

Kesangsian Gafur memang wajar. Puan masih wajib untuk membuktikan kepiawaiannya dalam berpolitik termasuk menunjukkan jiwa kepemimpinannya serta kemampuannya mengelola PDIP. Setidaknya Puan masih harus melewati tiga ujian politik.

Pertama, Puan harus mampu lolos dalam Pemilu 2009. Kedua, selama di DPR, Puan juga harus mampu tampil menonjol sembari menunjukkan keahliannya dalam berpolitik di tingkat nasional. Terakhir, Puan diharapkan berdiri di depan dan memainkan peran sentral dalam tubuh PDIP.

Bila itu semua dapat dilalui serta dikemas dengan komunikasi politik yang cantik maka mimpi Puan itu wajar untuk diwujudkan. Tetapi jika tidak maka lebih baik Puan menunda keinginannya itu setidaknya dalam 10 tahun mendatang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: