Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya

Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Ungkapan itu tampaknya belum pas untuk penggambaran sistem perpolitikan di Indonesia yang belakangan banyak memunculkan kader baru partai yang berasal dari keluarga.Menurut pengamat politik Arya Bima, secara kualitas tokoh muda masih dipertanyakan pemikirannya dalam memahami dan solusi terbaik bagi masalah perpolitikan nasional.

Tokoh muda itu diindikasikan dalam kinerjanya

tidak bisa lepas dari bayang-bayang sukses dan prestasi politik orang tua mereka.

“Contohnya Puan Maharani, yang mendompleng popularitas ibunya Megawati Soekarnoputri,” kata Arya Bima

Dengan adanya putra-putri dari para petinggi partai menjadi caleg, Arya berpendapat hal itu sebagai upaya generasi politisi senior untuk melanjutkan trah politiknya. Selain itu juga karena adanya upaya partai merebut suara dengan memanfaatkan sentimen tradisional.”Klan atau keluarga yang memang diharapkan mampu menjaga suara,” ujarnya.

Dilihat caleg dilihat dari aspek kuantitas, jika semakin banyak keluarga yang ikut dalam suatu partai, hal itu bisa menghancurkan partai yang bersangkutan.

Sementara dari aspek kapasitas, caleg yang bertalian darah harus mengikuti prosedur formal partai.

“Dari aspek kualitas, caleg tersebut harus ada kualitas yang diimbangi dengan talent,” pungkasnya.[

PKS Abaikan ‘Akhlakul Karimah’
Abdullah Mubarok
– Kreativitas PKS untuk tampil sebagai partai yang ‘bersih dan bebas konflik’ memang layak dipuji. Tapi bila cara itu melibatkan aib berupa konflik parpol lain, itu jelas sangat disayangkan. Sebagai partai dakwah, PKS telah mengabaikan ‘akhlakul karimah’.“PKS mengaku sebagai partai dakwah. Dengan adanya iklan itu berarti bertentangan dengan etika dasarnya yakni menjunjung akhlakul karimah,” kata pengamat politik Lembaga Survei Indonesia Burhanudin Muhtadi Jakarta, Jumat (13/2).

Iklan terbaru PKS yang berdurasi 32 detik berjudul Satu Bendera. Pada awal iklan, ditampilkan gambar beberapa orang yang sedang mendorong perahu ke darat. Setelah itu, potongan-potongan berita dari berbagai media massa tentang konflik antar parpol dan antar elit, ditayangkan secara berganti.

Potongan tersebut mulai dari ‘Yoyo’ Megawati Soekarnoputri melawan SBY yang saling berbalas kritik awal Febuari lalu. Ada juga tentang perseteruan antara Ketua Umum Partai Golkar (PG) Jusuf Kalla dengan Waket Dewan Penasihat PG Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Di akhir iklan tersebut ditampilkan gambar sekumpulan orang yang sedang memberikan penghormatan kepada sangsaka merah putih. Iklan itu ditutup dengan lambang dan no urut PKS dengan back ground bendera merah putih.

Burhanudin melihat iklan PKS tersebut merupakan langkah kampanye yang cerdas. Partai berlambang setangkai padi yang diapit dua bulan sabit itu berusaha untuk menarik massa yang apatis terhadap kondisi perpolitikan saat ini yang diwarnai oleh ketegangan.

Namun, lanjut Burhanudin, PKS telah melanggar fatsun politik. Tidak etis mengeksploitasi potensi konflik parpol lain untuk kepentingan pencitraan belaka. PKS dibaratkannya seperti memancing ikan di air keruh.

“Hal ini justru meningkatkan suhu politik ke depan, bukan meredam atau menyadarkan para elit. PKS dapat diposisikan sebagai musuh bersama,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: