JK, Presiden Indonesia 2009-2014?

Jeffrie Geovanie

Pertanyaan politik paling menarik pada saat ini adalah akankah Jusuf Kalla (JK) maju menjadi calon presiden? Lantas bagaimana dengan tugas-tugasnya sebagai wakil presiden saat ini?

Sebagai individu, JK punya hak untuk menjadi apa pun, termasuk menjadi presiden. Apalagi jika dilihat dalam perspektif proses pelembagaan politik, sebagai ketua umum partai terbesar saat ini, JK tak hanya punya hak, ia bahkan memiliki peluang yang cukup menjanjikan. Diakui atau tidak, sepanjang sejarah wakil presiden di Tanah Air, JK adalah satu-satunya wapres yang sangat aktif dan kaya inisiatif. Dibanding wapres-wapres sebelumnya, prestasi JK tergolong paling mengesankan.

Dengan rekam jejak yang cukup baik, JK memang layak “naik pangkat” dari RI-2 menjadi RI-1. Peluang itu akan semakin terbuka lebar jika Partai Golkar segera mengambil inisiatif – dengan mekanisme yang demokratis – menetapkan ketua umumnya menjadi capres.

Soal bagaimana menjalankan tugas sehari-hari sebagai wapres, tentu ada mekanisme yang sudah diatur dalam undang-undang, atau setidaknya bisa disepakati bersama asalkan tidak bertentangan dengan undang-undang. Dalam politik, semua persoalan teknis bisa diatur.

Pasar politik capres-cawapres di Tanah Air tak bisa dilepaskan dari hasil kerja lembaga-lembaga survei, tak terkecuali peluang JK, baik sebagai capres maupun cawapres.

Sejauh ini, hampir semua hasil jajak pendapat dari lembaga-lembaga survei yang valid menempatkan JK sebagai capres dengan ke-dikenal-an (popularitas) yang tinggi, namun dengan tingkat ke-dipilih-an (elektabilitas) yang rendah. Pada saat yang sama, hampir semua lem-baga survei juga menempatkan JK sebagai cawapres dengan tingkat ke-dipilih-an yang tinggi.

Melihat fakta-fakta itu, wajar belaka jika kemudian banyak pihak menganggap JK hanya pantas menjadi wapres, bukan presiden. Tapi, menurut saya, ada fakta lain yang kurang dicermati publik, yakni ke-dikenal-an JK dalam survei-survei itu sudah sangat tinggi, hampir sama dengan ke-dikenal-an SBY. Mengapa masih di bawah SBY, tidak lain karena posisinya sebagai wapres. Akan terdengar agak aneh jika popularitas wapres melebihi presiden.

Satu hal lagi, mengapa umumnya pemilih belum menempatkan JK sebagai calon presiden. Mungkin karena persepsi masyarakat menganggap JK tidak berminat menjadi capres. Padahal, pada faktanya belum tentu demikian.

Konsisten

Sebagai seorang negarawan, JK konsisten menempatkan diri pada posisinya. Ia ingin memberikan contoh kepada para pejabat yang lain bahwa salah satu kunci sukses dalam mengemban amanat adalah adanya loyalitas pada pimpinan. Sehingga, pada saat mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif memuji bahwa JK sebagai The Real President, JK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: