N 250 belum dikasih Licensi Amrik

BANDUNG – Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal menyarankan PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) menggunakan pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (DI) ketimbang membeli pesawat MA-60 buatan Xian Aircraft Industry Co Ltd, Cina. Saran ini juga ditujukan kepada Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil.

“Daripada beli dari Cina, lebih baik beli dari sini (PT DI) saja,” kata Jusman saat berkunjung ke kantor pusat PT DI di Bandung, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Pesawat buatan PT DI yang direkomendasikan adalah pesawat berbaling-baling N250, yang setipe dengan MA-60 berpenumpang 60 orang dan bermesin turbojet propeller. Menurut dia, N250 sangat ekonomis digunakan dan cocok untuk rute penerbangan di Indonesia Timur. “Ini (N250) lebih bagus dan lebih murah daripada MA-60,” ujar dia.

Hanya, N250 belum memiliki sertifikat kelaikan terbang dari Federal Aviation Administration (FAA), Amerika Serikat. Persoalan pendanaan menjadi alasan utama. Padahal rencana sertifikasi pesawat ini sudah muncul sejak 1998.

Hingga saat ini, rencana pengadaan 15 pesawat MA-60 untuk Merpati masih terkendala persoalan harga dan jumlah. Padahal Merpati telah meneken perjanjian jual-beli dengan Xian pada 7 Juni 2006. Belakangan Xian melayangkan somasi terhadap Merpati karena bermaksud membatalkan pembelian 15 pesawat MA-60. WAHYUDIN FAHMI

Ini salah kutipan nya :
Temans,

Saya sebenarnya sangat sependapat dengan rekan2 semua. Mengapa PT.DI tidak melanjutkan program N-250-nya?
Padahal tuh pesawat insyaAllah tidak kalah bagusnya bila bersaing dengan produk luar. lagipula, belinya kan lewat PT. DI, jadi duitnya muter di dalam negeri, sehingga mampu digunakan lagi untuk kemajuan PT.DI.
Hanya saja, masalah pemasaran produk PT.DI dipasaran internasional. Apakah kita punya license untuk N-250??
Yang empunya pesawat (salah satu negara di Benua Amerika-Eropa) ga mau tersaingi oleh kemampuan PT.DI.
selain itu, nuansa tekanan internasional masih membekas samapi saat ini.
masih ingat protes negara adi daya terhadap RI ketika helikopternya dipersenjatai oleh Irak yang dulu pernah beli produknya IPTN??
Yah, kemampuan Indonesia untuk lepas dari tekanan internasional belum sehebat Cina.
Tapi, sudah lah..

Sebagai bangsa Indonesia, we just hope and pray for our future….

–> Ini ada sedikit info mengenai MA-60 Made In China.

Xinzhou 60, Pesawat Regional Irit Biaya

Penulis: Donna Ch. Asri/Angkasa

Produk Cina sepertinya belum akan berhenti mengambil hati pasar di Indonesia. Kini giliran Airline nasional yang tergoda. Pilihannya Xinzhou 60. Tak kalah canggih dengan pesawat sekelasnya tapi lebih ekonomis.

Keunggulan Xinzhou 60 (Xian MA60) dalam hal irit biaya sepertinya memberikan daya tarik kuat bagi PT Merpati Nusantara Airlines (Merpati). Terbukti Merpati mantap menyewa 15 pesawat Xian MA60 untuk memperkuat armadanya. Pesawat berkapasitas 50-60 penumpang ini direncanakan menggantikan Fokker F27 Merpati yang akan dijual. Dibandingkan ATR atau pesawat sejenis lain yang mungkin menggantikan F27, MA60 memang lebih unggul dalam hal harga dan ongkos perawatan.

Harga satu pesawat MA60 disebut dua-pertiga dari harga pesawat sejenis lainnya yang ditawarkan di pasaran dunia. Sedangkan biaya operasinya bisa 10-20% lebih murah disbanding pesawat sejenis.

Meski begitu, dari segi performa MA60 tak kalah dengan ATR 42/72 Prancis dan De Havilland Dash 8 Kanada. “Biarpun lebih ekonomis, kemampuannya sama dengan ATR. Mesinnya sama kok,” komentar Capt. Adhy Gunawan dari DSKU yang menginspeksi kelaikan MA60.

Turunan Y7
Sama dengan ATR-72, MA60 bertenaga mesin turboprop PW127J ganda keluaran Pratt and Whitney Canada. Sedangkan untuk propelernya menggunakan propeler 247F-3 produksi Hamilton Sundstrand, AS. Mesin PW127J berbobot ringan dan memberikan banyak keuntungan. Termasuk kebisingan rendah, tahan lama, bertenaga tinggi dan terutama irit bahan bakar. Jika satu mesin bermasalah, tenaga pada mesin yang satu lagi secara otomatis dapat ditingkatkan hingga tenaga maksimum lepas landas.

Keuntungan serupa juga didapat dari propeler 247F-3 yang terbuat dari material komposit. Baling-baling empat bilah ini sangat efisien. Selain ringan dan efisien, propeler dilengkapi perangkat synchro-phasing hingga memiliki karakteristik rendah kebisingan. Karakteristik menguntungkan lainnya adalah tahan lama dan hanya membutuhkan perawatan sederhana.

Dalam hal keandalan, Adhy juga meyakinkan bahwa MA60 cukup tahan banting. Terutama jika ditilik dari cikal bakalnya yang merupakan pesawat militer. Berawal di tahun 1987 saat XAC mengembangkan pesawat transport Y-7 dan meningkatkannya menjadi Y7-100 pada 1988.

Di tahun 1994, Y7H-500 yang merupakan versi kargo turunan seri Y7, mendapatkan Type Certificate. Sementara Y7-200A dikembangkan dan mendapat Type Certificate pada 1998 dengan mesin baru P&WC. Pesawat Y7-200A ini kemudian mendapat mesin berperforma lebih baik, avionik modern dan metodologi perawatan yang baru. Dengan kelengkapan baru inilah Y7-200A bermetamorfosis menjadi MA60.

Juni 2000, MA60 mendapatkan Type Certificate dari Civil Aviation Administration of China (CAAC). Disusul pemberian Production Certificate enam bulan kemudian. Dalam waktu empat tahun setelahnya paling tidak sudah 20 pesawat MA60 beroperasi. Baik untuk sipil maupun militer. Sebagai pesawat sipil, MA60 masuk hitungan sebagai pesawat komersil regional yang sudah maju. Terutama jika dilihat dari karakternya yang aman, andal, nyaman, efektif dari segi biaya dan perawatan mudah.

Meski begitu, MA60 bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan. Di antaranya konfigurasi VIP, kargo, patroli perbatasan, coast surveillance, hujan buatan dan survei udara.

Segala kondisi
Konsep rancangan MA60 didasari konsep modern dengan perangkat berteknologi canggih. Termasuk perangkat penerbangan kelas satu seperti automatic flight control system. Sistem ini merupakan sistem saluran ganda yang sepenuhnya digital. dilengkapi fungsi perlindungan kegagalan pasif dan terdiri dari sistem auto-pilot dan flight director. Tak ketinggalan dukungan tenaga internal berikut sistem pembangkit tenaga mandiri (APU, auxiliary power unit).

Untuk memantau keseluruhan sistem pesawat, MA60 dilengkapi central warning system yang terdiri dari central warning light box dan control box. Sistem ini secara terus menerus memantau setiap sistem untuk mengetahui seandainya ada kegagalan sistem. Jika suatu sistem gagal, lampu peringatan akan muncul pada boks lampu peringatan. Lampu ini memberi peringatan pada awak sehingga langkah antisipasi bisa segera diambil.

Sudah aman, kenyamanan bukannya dikesampingkan. Rancangan fuselage MA60 tak hanya disesuaikan dengan standar ekonomis. Tetapi juga sesuai standar kenyamanan pesawat komersil. Tak tanggung-tanggung, yang dijadikan acuan adalah ukuran badan orang Amerika dan Eropa. Jadi keleluasaan di dalam kabin tak perlu dipertanyakan lagi.
Kemampuan MA60 untuk beradaptasi pun tak perlu diragukan. XAC meyakinkan kalau pesawat MA60 memiliki daya adaptasi yang tinggi. Karena itu tak masalah bagi pesawat untuk dioperasikan di mana saja dan dalam kondisi apa pun.

Pesawat MA60 dapat dioperasikan dalam suhu -54 C~50 C. Pesawat juga dapat lepas landas dan mendarat di bandara mana pun, meski di bandara dengan elevasi sama atau kurang dari 3.680 m. Kondisi landasan juga bukan halangan. Pesawat MA60 dapat lepas landas dan mendarat di landasan sederhana sekalipun. Seperti landasan berdebu, berumput atau berkubangan. Bahkan di bawah lingkungan lembab, bersalju, berpasir atau berdebu. MA60 tetap dapat beroperasi dengan aman.

Sayap MA60 terdiri dari ruang ganda dengan sambungan multi-fitting ke fuselage. Dengan struktur utama berupa box aluminium berkekuatan tinggi sehingga mengoptimalkan penggunaan ruang box sayap. Sekaligus menjamin volume bahan bakar agar maksimum. Di samping itu pada sayap terdapat lift augmenters. Karenanya MA60 memiliki performa baik untuk terbang kecepatan rendah.

Menilik deretan kelengkapan dan kemampuan berdaya saing yang dimiliki MA60, tak heran jika pesawat ini mulai diperhitungkan. Apalagi bagi operator yang menuntut efisiensi. Tak hanya dari dalam negeri, dari luar negeri pun minat berdatangan. Di antaranya dari Bolivia, Laos, Zambia, Zimbabwe dan tentu saja Indonesia.
Paling tidak sudah ada pesanan untuk 90 pesawat MA60 yang masuk daftar XAC hingga Oktober 2006. Sementara sejumlah airline sudah mengoperasikannya. Di antaranya Wuhan Airlines, Sichuan Airlines, Laos Airlines dan Air Zimbabwe. ***

Spesifikasi MA60
Dimensi: Panjang 24,71 m; rentang sayap 29,20 m; tinggi 8,85 m
Kemampuan: Kecepatan jelajah ekonomis 430 km/jam; kecepatan jelajah maksimum 514 km/jam; jangkauan terbang 2.450 km; ketinggian terbang maksimum 7620 m; MTOW 21,8 ton; jarak take off minimal 810 m; jarak landing minimal 760 m
Awak: 2-3; kapasitas angkut 52-60 penumpang

MA60 Siap Beroperasi
Paling tidak dua pesawat MA60 sudah hadir memperkuat armada Merpati di bulan April ini. Dipastikan pesawat ini akan segera beroperasi melayani rute-rute pendek Bali-Nusa Tenggara Timur dan Barat menggantikan F27 yang akan dijual. Setelah dua pesawat, secara bertahap MA60 akan menyusul hingga akhir tahun jumlahnya akan mencapai 15 unit. Menurut GM Corporate Secretary Merpati Irvan Harijanto, seluruh pesawat merupakan produk baru dan Merpati merupakan pengguna pertama di Indonesia. Pengadaan pesawat baru ini didukung Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) senilai Rp 450 miliar yang didapat oleh Merpati.

Industri Terintegrasi ala XAC
Xi’an Aircraft Industry (Group) Company Limited (XAC) merupakan industri penerbangan di Cina yang mengembangkan dan memproduksi pesawat ukuran menengah hingga besar. Prioritas untuk memproduksi pesawat militer dan komersil sudah dicanangkan XAC sejak didirikan tahun 1958 dan sejak reformasi. Meskipun begitu, XAC juga melakukan pengembangan dan penelitian di bidang ilmiah dan teknologi. Selain mengembangkan produk pesawat juga mengembangkan produk non-aero. XAC saat ini tercatat sebagai kelompok industri berteknologi tinggi. Terintegrasi dengan industri otomobil, material bangunan, produk elektronik dan perdagangan ekspor-impor. Sebagai perusahaan negara berperingkat pertama, XAC memiliki lebih dari 20.000 karyawan melingkupi wilayah seluas 3 juta meter persegi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: