SBY MENIRU GAYA BADAWI

KEBIJAKAN pemerintah SBY menurunkan harga BBM secara bertahap dijadikan sebagai amunisi untuk meraih simpati menjelang Pemilu 2009. Bagi masyarakat luas, penurunan tersebut tidak terlalu berpengaruh karena tidak diikuti dengan penurunan harga kebutuhan pokok dan tarif transportasi umum.

Hal itu dikemukakan oleh pengamat ekonomi dari UGM Dr Sri Adiningsih dan pengamat politik dari Charta Politika Burhanuddin Muhtadi. Mereka sependapat, penurunan harga yang dilakukan pemerintah tidak sebanding dengan penurunan harga jual minyak mentah dunia.

“Premium seharusnya (diturunkan sampai) Rp 4.000 dan solar seharusnya Rp 3.500. Dengan angka seperti itu, saya yakin ongkos transportasi akan ikut turun,” ujar Sri Adiningsih , Jumat (19/12).

Dunia usaha, lanjut dia, kemungkinan besar juga akan menurunkan harga-harga barangnya. Tapi, karena turunnya tidak signifikan, maka penurunan BBM tersebut tidak banyak bermanfaat. “Bagi masyarakat luas tidak banyak manfaatnya,” tandasnya.

Menurut Sri, yang bisa langsung menikmati penurunan harga BBM saat ini adalah masyarakat pemilik kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor. Sementara, masyarakat bawah yang jumlahnya mayoritas di negeri ini hanya bisa gigit jari karena mereka rata-rata menggunakan angkutan umum yang tidak menurunkan tarifnya.

Di sisi lain, kata dia, keuntungan pemerintah dari selisih harga jual BBM tidak terdistribusikan dengan baik sehingga tidak bisa menikmati hasil dari kebijakan tersebut. “Orang yang tidak punya kendaraan bermotor tidak mendapatkan pengaruh apa-apa, karena harga-harga kebutuhan pokok tetap tinggi,” tuturnya.

Burhanuddin Muhtadi juga sependapat dengan harga premium selayaknya seperti dilontarkan Sri Adiningsih, yakni Rp 4.000 per liter. Makanya, dia curiga penurunan BBM yang dilakukan secara bertahap pada tanggal 1 dan 15 Desember lalu sebagai upaya politicking kebijakan pemerintah soal BBM.

“Kasus SBY mirip-mirip dengan PM Malaysia Abdullah Badawi yang juga mengalami proses delegitimasi tapi kemudian berhasil meraup kembali dukungan di negerinya dengan cara melakukan politik BBM,” ujar Burhanuddin Muhtadi , Kamis (18/12).

Seperti diketahui, Abdullah Badawi melakukan kebijakan penurunan harga BBM hingga tujuh kali dalam tahun ini sejak harga minyak mentah dunia anjlok. Meski harganya masih di atas harga di Indonesia, kebijakan tersebut berhasil meredam aksi demontrasi yang selama ini mengguncang pemerintahannya. Rating Badawi terus menanjak, sementara pesaingnya, Anwar Ibrahim, kehabisan amunisi untuk menyerang pemerintah berkuasa.

Menurutnya, menghadapi pengaruh krisis global SBY memiliki cadangan amunisi, yakni dengan menurunkan harga BBM secara pelan-pelan. “Sebab, pengaruh krisis makin kelihatan, PHK akan terjadi besar-besaran pada Maret dan April. Kondisi ini diantisipasi oleh

timnya SBY,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: