Gaya berpolitik Feri Relasyah

Menjadi seorang politikus itu gampang-gampang susah. Minimal ada tiga syarat utama yang harus dipenuhi. Memiliki akhlak, nurani, dan akal sehat. Jika tidak, maka akan keblinger nantinya.

Sebagai contoh peristiwa yang saya alami. Pada Februari tahun 2007, saya di-recall menjadi anggota DPR dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Penyebab saya di recall sejatinya cukup sepele. Yakni kerap berbeda pendapat dengan Muhaimin dan kawan-kawan. Padahal di alam demokrasi, perbedaan adalah sebuah kewajaran.

Recall rupanya tidak hanya kepada saya seorang. Banyak teman-teman PKB yang lainnya mengalami hal serupa. Suasana di partai pun mulai memanas. Kon­­flik kian meruncing di antara pe­­ngurus dan anggota DPR asal PKB.

Tapi saya tidak pernah merasa takut dengan ancaman-ancaman itu. Sebab, saya adalah orang yang selalu berbeda pendapat atau seringkali tidak sepaham dengan pimpinan, baik di DPR maupun di internal partai.

Bahkan, ketika mendirikan PKNU pada November 2006, saya tetap melakukan otokritik. Tujuannya, kritik itu untuk membangun.

Karena terus melakukan kritik, saya juga mendapat berbagai teror dan ancaman. Namun, saya tetap istiqomah. Sebab, yang saya lakukan untuk kebaikan partai.

Sejatinya, sangat tidak elok jika harus gontok-gontokan dengan teman sendiri. Apalagi di partai yang basisnya umat Islam atau NU yang berdasarkan pada nilai-nilai agama.

Pendapat saya, konflik itu akan hilang dengan alamiah jika partai bisa dikelola dengan baik dan ada keteladanan dari sang pemimpin.

Di PKNU, kita mencoba menjalankan politik kebersamaan tanpa dendam dan salah paham. Sebenarnya, politik itu mulia dan luhur karena berkaitan dengan bagaimana mengatur dan mengelola kehidupan publik secara bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu.

Tapi terkadang orang lupa tentang esensi politik itu sendiri. Sehingga, menempuh cara-cara yang tidak etis untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan pribadi.

Ketika yang menonjol itu ambisi atau kepentingan pribadi, maka akan muncul sikap menghalalkan berbagai macam cara dalam berpolitik.

Akan tetapi semua itu bisa di minimalisir. Caranya masing-masing individu menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam berpolitik. Sehingga, ada rasa malu dan tidak enak.

Politik yang lepas dari agama adalah politik yang tidak punya malu dan tidak beretika. Sehingga yang muncul adalah sikap saling menjegal satu sama lain.

Feri Relasyah
sumber : milis cah_delanggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: