MARYAMAH KARPOV mozaik 46, sepenggal kisah buku terakhir Tetralogi Laskar Pelangi

Sebelumnya saya minta maaf kepada sang penulis fenomenal “Andrea Hirata” apabila tulisan ini nantinya melanggar kode etik pernovelan atau entah apapun namanya. Saya hanya mau mengulas salah satu babak atau yang mas Ikal sebut dengan Mozaik di novel terakhir “Tetralogi Laskar Pelangi” yang isinya bisa menggugah semangat saya untuk terus berkarya di segala hal. Mungkin bagi sebagian orang hal ini sepele atau pernah mendengar ataupun mengalami, tapi bagi saya cerita mas Ikal di Novel Maryamah Karpov ( mimpi mimpi Lintang ) di Mozaik 46 sungguh sangat menggugah gelora hidup saya.

Inilah cerita Maryamah Karpov ( mozaik 46 )…

CARA PANDANG

Sepanjang hari aku melamunkan kejadian dimarahi Ibu pagi tadi. Puluhan tahun aku menyandang nama Hirata, baru hari ini aku mafhum maksudnya. Selama ini aku selalu menduga nama itu dilekatkan pada nama depanku karena orangtuaku ingin aku pintar seperti orang Jepang. Atau karena Hirata bagus kedengarannya, tak ketinggalan zaman,modern. Sering pula kusangka nama itu dimbil dari seorang Jepang pahlawan, seniman maestro, atlet pencetak rekor, seorang ilmuwan discoverer yang menaklukkan Kutub Utara, atau seorang inventor–penemu obat tangkal bengek, seorang dokter hebat, atau profesor penemu magic jar, alat penetas telur, peninggi badan, atau paling tidak pencegah botak, Rupanya, seperti sangkaku akan wajahku dulu, anggapanku akan nama pun telah mengalami overvalued. Menyadari akhirnya lekat dengan namaku, begitu dekat, aku berdebar-debar.

Hari ini aku berjumpa dengan Lintang di Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi untuk membicarakan desain perahu. Kusampaikan padanya bahwa aku tak punya konsep untuk membuat perahu. Tingkat kesulitan membuatnya dan kemegahan perahu Mapangi telah memblok mentalku.

Lintang, yang sejak dulu selalu bisa membaca pikiranku, menghirup kopinya, santai saja. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Menit demi menit berlalu, tapi inilah sesuatu yang selalu kurindukan darinya, selalu kunanti-nanti. Sebab aku tahu, sebentar lagi sesuatu yang amat cemerlang pasti segera meluncur dari mulut pintarnya itu. Sementara di luar warung kopi, Nurmi membawakan lagu Semalam di Malaysia. Indah mendayu-dayu.

“Lihatlah Nurmi main Biola,”kata Lintang tenang.

“Tahukah kau, Boi? Biola adalah instrumen yang amat susah dimainkan. Pemainnya harus punya feeling yang kuat untuk menemukan nada. Sebab tak ada pedoman posisi nada seperti pada gitar. Tangan kanan menggesek, jemari kiri menekan dawai, itu tak mudah, karena dua macam gerak mekanika yang berbeda. Jarak dawainya pun amat dekat, maka gampang sekali suaranya distorsi. Jangankan menemukan nada yang pas, menggeseknya dengan benar saja memerlukan latihan yang lama. Orang yang tak berjiwa musik, tak kan dapat memainkan biola.”

Aku menyimak kisah biola ini, tapi belum dapat kulihat hubungan biola Nurmi dengan perahu Mapangi.

“Jika kau ingin belajar main biola dengan memikirkan bagaimana Nurmi bisa membawakan lagu Semalam di Malaysia seindah itu, kau tak kan bisa melakukannya. Bagaimana kau dapat menemukan presisi nada seperti Nurmi? Bagaimana kau dapat menemukan koordinasi gerakan mekanikamu? Sehingga muncul vibrasi yang menakjubkan itu? Begitulah caramu melihat perahu Mapangi selama ini.”

Mulai menarik. Lintang mengulum senyum khasnya.

“Barangkali akan lebih mudah jika kita berfikir bahwa biola adalah alat musik akustik yang berbunyi karena getaran. Tangga nadanya merupakan konsekuensi dari panjang pendek gelombang akibat jemari yang memencet dawai bergerak dalam jarak tertentu ke depan atau ke belakang stangnya. Dengan melatih terus jemari secara konsisten dengan jarak tertentu itu, begitulah kita akan menemukan nadanya.”

Membuat sesuatu yang rumit menjadi begitu sederhana adalah keahlian khusus Lintang yang selalu membuatku iri.

“Kesulitan akan gampang dipecahkan dengan mengubah cara pandang, Boi.”

Aku teringat, serupa ini pula Lintang dulu memecahkan hambatan kami sekelas belajar bahasa Inggris.

“Begitu pula perahu,”katanya dengan mata pintarnya yang berkilauan.

“Jika kepalamu selalu dipenuhi oleh hebatnya kapal Bulukumba Mapangi, tak kan mampu kau buat perahu itu. Mulai sekarang kau harus berfikir bahwa perahu, apapun bentuknya, adalah sebuah bangun geometris yang tunduk pada dalil-dalil hidrodinamika. Berangkatlah dari sana. Kau harus berangkat dari sebuah pemikiran hidrodinamika!”

Aku terpukau karena kagum. Betapa genius orang udik di depanku ini? Mengapa aku tak pernah berfikir dengan cara seperti itu?

Lelaki pandai yang rendah hati itu tersenyum kecil saja melihatku terperangah. Ia mohon diri sembari memberikan petuah terakhirnya.

“Tempatkan dirimu sebagi ilmuan, Boi, bukan sebagai pembuat perahu. Dengan ilmu, perahumu akan lebih hebat daripada perahu Mapangi!”

 

Ada kecerdikan dari mas Ikal dalam menciptakan Novel Tetralogi Laskar Pelangi ini. Entah itu benar atau tidak, yang pasti sampai saat ini saya sendiri masih menempatkan Lintang sebagai “idola imajinasi” saya sebagai orang yang begitu pintar dan genius. Dalam kegeniusannya bahkan beliau dapat dengan mudah memecahkan sesuatu yang dipandang orang lain begitu rumit dan runyam menjadi sesuatu yang teramat sangat sederhana bagi si Lintang. Seperti pada Mozaik ke 46 ini, hanya dengan mengubah cara pandang saja semuanya jadi begitu jelas.

Tapi yang jadi pertanyaan saya sekarang justru SIAPAKAH sebenarnya yang pinter beneran? Mas Ikal atau si Lintang?

2 Tanggapan

  1. hwehe. tentu bang andreanya yg pintarlah…

    v(^_^)

    dah lama pengen beli maryamah karpov, tp blm sempat2.

  2. Sebenarnya ada nggak sih tokoh lintang tersebut? karena tokoh ini masih misteri?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: