Mbak Tutut

Meski masih memiliki magnet politik, tak mudah bagi Siti Hardiyanti Rukmana untuk comeback.

 

Setelah meninggalnya Soeharto, Mbak Tutut, sapaan akrab Siti Hardiyanti Rukmana, nyaris tak pernah muncul di publik.  Srikandi Cendana itu seperti hilang ditelan bumi.

 

Meski demikian, popularitas  dan pesona Tutut belum sepenuhnya memudar. Hal itu terbukti dalam polling yang digelar Lembaga Riset Informasi (LRI) pada 25 Agustus hingga 7 September 2008.

 

Dalam polling yang melibatkan 2.400 responden di 33 provinsi itu,  Tutut berada di posisi keempat tokoh perempuan nasional terpopuler.

 

Mantan Menteri Sosial  itu dianggap populer oleh 8,9 persen responden. Di atasnya ada Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono (9,2 persen), Menteri Keuangan merangkap Pelaksana tugas Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati (13,3 persen) dan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri (44,9 persen).

 

Sementara, di bawah  Tutut ada Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama (non aktif) sekaligus Calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (8,4 persen) dan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (7,6 persen).

 

Pemilihan sampel yang diwawancarai dalam polling tersebut menggunakan metode teknik sampling multi-stage cluster atau juga dikenal dengan teknik sampling gugus bertahap. Estimasi margin of error yang diperoleh yaitu sebesar ± 2,00 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

 

“Ini merupakan hasil luar biasa karena Mbak Tutut masih berada di posisi keempat. Sebab, selama ini Mbak Tutut hampir menghilang dari percaturan politik dan kegiatan sosial dan liputan media setelah meninggalnya Pak Harto,” ujar Presiden LRI Johan O Silalahi kepada Indonesia Monitor, Sabtu (4/10).

 

Menurut Johan, hasil polling tersebut membuktikan bahwa Tutut masih survive di tengah bermunculannya tokoh-tokoh perempuan nasional. Kata Johan, hasil polling tersebut menggambarkan  popularitas afektif, di mana kecenderungannya adalah memilih alias selangkah menuju elektabilitas.  “Artinya, masyarakat yang menyukai Mbak Tutut cenderung memilihnya.”

 

Ditambahkan Johan,  Tutut kalah populer dari Sri Mulyani, Meutia, dan Megawati karena jarang tampil di media. “Kalau ke depan Mbak Tutut rajin muncul di media, popularitasnya pasti cenderung naik. Hal ini berlaku bagi semua tokoh yang aktif melakukan political marketing atau personal marketing.”

 

Meski demikian, Johan meyakini, Tutut tak akan mampu bersaing dengan Megawati. “Kalau dengan Sri Mulyani dan Meutia Hatta, sangat mungkin bisa bersaing. Sebab, posisi kedua orang itu masih menteri, sama dengan posisi yang pernah ditempati Mbak Tutut,” ujar Johan.

 

Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti mengatakan, terlepas dari metodologi yang digunakan, harus diakui bahwa Tutut memang masih dianggap populer oleh rakyat. Katanya, hasil polling itu memberi  peluang bagi Tutut untuk berani tampil ke kancah politik.

 

Tapi, kata Ray, ada kendala besar yang dihadapi Tutut jika ingin tampil di pentas politik. “Jika dia (Tutut) ingin tampil sekarang, dia tidak hanya akan berhadapan dengan lawan-lawan politiknya, tetapi juga lawan-lawan politik bapaknya,” ujar Ray 

 

Sebaliknya, jika  Tutut mencoba menahan diri untuk tidak tampil sekarang, dia akan dimakan usia. Januari tahun depan, Tutut berusia 60 tahun. “Jadi, ini memang pilihan yang sangat sulit bagi dia,” tegas Ray.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: