FENOMENA multipartai dalam Pemilu 1999 dan 2004 kembali terulang dalam Pemilu 2009

FENOMENA multipartai dalam Pemilu 1999 dan 2004 kembali terulang dalam Pemilu 2009. Akibatnya, masyarakat kembali kehilangan semangat (Loss Spirit) untuk memberikan hak suaranya pada pemilu April 2009.

Kemudahan untuk mendirikan partai politik dan diperbolehkannya partai politik yang mendapat kursi di legislatif pusat menjadi penyebab begitu banyaknya parpol yang akan mengikuti Pemilu 2009.

Sebagai contoh, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik Pasal 2 ayat 1 menyebutkan Partai Politik didirikan dan dibentuk oleh paling sedikit 50 orang Warga Negara Indonesia yang telah berusia 21 tahun dengan akta notaris; ayat 2 Pendirian dan pembentukan Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat 1 menyertakan 30 persen keterwakilan perempuan.

Dari pernyataan Undang-Undang tersebut sangat memungkinkan untuk mendirikan partai politik. Namun, perlu disadari bahwa tantangan besar yang akan dihadapi partai politik dalam Pemilu 2009 adalah apatisme rakyat.

Apalagi, kehadiran parpol selama ini dan para elitenya dinilai gagal membawa aspirasi masyarakat dan tidak memperjuangkan hak rakyat. Bahkan, perilaku elite politik hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Untuk menarik kembali kepercayaan dan simpati pemilih dalam Pemilu 2009, bukan pekerjaan yang mudah. Ini karena apatisme pemilih terhadap parpol telah ditunjukkan dengan kesadaran untuk golput.

Sebagai catatan, golput pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004 putaran pertama sebesar 24,60 persen dan menjadi 26,31 persen pada putaran ke 2.

Golput Pilkada Jawa Timur mencapai 39,2 persen. Ini berarti dari 29.061.718 pemilih sekitar 11,4 juta di antaranya diduga tidak menggunakan hak pilihnya. Golput di Pilkada Banten, mencapai 39,17 persen. Pilkada DKI Jakarta sebesar 34, 59 persen, Pilkada Jawa Barat mencapai 32,7 persen dan Pilkada Jawa Tengah mencapai 41, 5 persen. Bahkan tingkat golput dalam Pemilu 2009 diperkirakan akan mencapai lebih 40 persen.

Bisa kita bayangkan sulitnya parpol peserta Pemilu 2009 “memperebutkan” pemilih yang sudah semakin apatis dan kritis, khususnya mereka yang duduk di legislatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: