KLATEN di antara SOLO dan JOGJA

Kabupaten Klaten (Bahasa Jawa: Klathèn), adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Klaten. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Boyolali di utara, Kabupaten Sukoharjo di timur, serta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di selatan dan barat. Kompleks Candi Prambanan, salah satu kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia, berada di Kabupaten Klaten.

 

Sebagian besar wilayah kabupaten ini adalah dataran rendah dan tanah bergelombang. Bagian barat laut merupakan pegunungan, bagian dari sistem Gunung Merapi. Ibukota kabupaten ini berada di jalur utama Solo-Yogyakarta.

Kabupaten Klaten terdiri atas 26 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Ibukota kabupaten ini adalah Klaten, yang sebenarnya terdiri atas tiga kecamatan yaitu Klaten Utara, Klaten Tengah, dan Klaten Selatan. Klaten dulunya merupakan Kota Administratif, namun sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, tidak dikenal adanya kota administratif, dan Kota Administratif Klaten kembali menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Klaten.

Asal Mula Nama KLATEN

Ada dua versi yang menyebut tentang asal muasal nama Klaten. Versi pertama mengatakan bahwa Klaten berasal dari kata kelati atau buah bibir. Kata kelati ini kemudian mengalami disimilasi menjadi Klaten. Klaten sejak dulu merupakan daerah yang terkenal karena kesuburannya.

Versi kedua menyebutkan Klaten berasal dari kota Melati. Kata Melati kemudian berubah menjadi Mlati. Berubah lagi jadi kata Klati, sehingga memudahkan ucapan kata Klati berubah menjadi kata Klaten. Versi ke dua ini atas dasar kata-kata orangtua sebagaimana dikutip dalam buku Klaten dari Masa ke Masa yang diterbitkan Bagian Ortakala Setda Kab. Dati II Klaten Tahun 1992/1993.

Melati adalah nama seorang kyai yang pada kurang lebih 560 tahun yang lalu datang di suatu tempat yang masih berupa hutan belantara. Kyai Melati Sekolekan, nama lengkap dari Kyai Melati, menetap di tempat itu. Semakin lama semakin banyak orang yang tinggal di sekitarnya, dan daerah itulah yang menjadi Klaten yang sekarang.

Dukuh tempat tinggal Kyai Melati oleh masyarakat setempat lantas diberi nama Sekolekan. Nama Sekolekan adalah bagian darinama Kyai Melati Sekolekan. Sekolekan kemudian berkembang menjadi Sekalekan, sehingga sampai sekarang nama dukuh itu adalah Sekalekan. Di Dukuh Sekalekan itu pula Kyai Melati dimakamkan.

Kyai Melati dikenal sebagai orang berbudi luhur dan lagi sakti. Karena kesaktiannya itu perkampungan itu aman dari gangguan perampok. Setelah meninggal dunia, Kyai Melati dikuburkan di dekat tempat tinggalnya.

Sampai sekarang sejarah kota Klaten masih menjadi silang pendapat. Belum ada penelitian yang dapat menyebutkan kapan persisnya kota Klaten berdiri. Selama ini kegiatan peringatan tentang Klaten diambil dari hari jadi pemerintah Kab Klaten, yang dimulai dari awal terbentuknya pemerintahan daerah otonom tahun 1950.

Hari jadi

Daerah Kabupaten Klaten semula adalah bekas daerah swapraja Surakarta. Kasunanan Surakarta terdiri dari beberapa daerah yang merupakan suatu kabupaten. Setiap kabupaten terdiri atas beberapa distrik. Susunan penguasa kabupaten terdiri dari Bupati, Kliwon, Mantri Jaksa, Mantri Kabupaten, Mantri Pembantu, Mantri Distrik, Penghulu, Carik Kabupaten angka 1 dan 2, Lurah Langsik, dan Langsir.

Susunan penguasa Distrik terdiri dari Pamong Distrik (1 orang), Mantri Distrik (5), Carik Kepanawon angka 1 dan 2 (2 orang), Carik Kemanten (5 orang), Kajineman (15 orang).

Pada zaman penjajahan Belanda, tahun 1749, terjadi perubahan susunan penguasa di Kabupaten dan di Distrik. Untuk Jawa dan Madura, semua propinsi dibagi atas kabupaten-kabupaten, kabupaten terbagi atas distrik-distrik, dan setiap distrik dikepalai oleh seorang wedono.

Pada tahun 1847 bentuk Kabupaten diubah menjadi Kabupaten Pulisi. Maksud dan tujuan pembentukan Kabupaten Pulisi adalah di samping Kabupaten itu menjalankan fungsi pemerintahan, ditugaskan pula agar dapat menjaga ketertiban dan keamanan dengan ditentukan batas-batas kekuasa wilayahnya.

Berdasarkan Nawala Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana Senopati Ing Alaga Abdul Rahman Sayidin Panata Gama VII, Senin Legi 23 Jumadikir Tahun Dal 1775 atau 5 Juni 1847 dalam bab 13 disebutkan :

“……………………………….” KratonDalam Surakarta Adiningrat Nganakake Kabupaten cacah enem.

“………………………………” Kabupaten cacah enem iku Nagara Surakarta, Kartosuro, Klaten, Boyolali, Ampel, lan Sragen.

“………………………………” Para Tumenggung kewajiban rumeksa amrih tata tentreme bawahe dhewe-dhewe serta padha kebawah marang Raden Adipati.

Di Jatinom, upacara tradisional Sebaran Apem Yaqowiyu diadakan setiap bulan Sapar. Di Palar, Trucuk, Klaten bersemayam pujangga dari Kraton Solo bernama Ronggo Warsito. Keindahan alam dapat dinikmati di daerah Deles, sebuah tempat sejuk di lereng Gunung Merapi. Rowo Jombor tempat favorit untuk melihat waduk. Terdapat juga Museum Gula, di Gondang Winangun yang terletak sepanjang jalan Klaten – Yogyakarta.

Di Kecamatan Tulung sebelah timur terdapat serangkaian tempat bermunculannya mata air pegunungan yang mengalir sepanjang tahun, dan dijadikan obyek wisata. Wisata yang bisa dinikmati di sana adalah wisata memancing dan pemandian air segar. Banyak tempat pemandian yang bisa dikunjungi baik yang berbayar maupun tidak berbayar, seperti Umbul Nilo (gratis), Umbul Penganten (gratis), Umbul Ponggok (berbayar), Umbul Cokro (berbayar) dan umbul lainnya. Namun kalau untuk wisata memancing semua harus berbayar karena dikelola oleh usaha warga. Letak pemancingan yang terkenal adalah di desa Janti. Sambil memancing pengunjung dapat juga menikmati masakan ikan nila, lele, atau mas goreng berbumbu sambel khas dengan harga sangat terjangkau. Tiap hari libur perkampungan ini sering mengalami kemacetan karena membludaknya pengunjung dari kota Solo, Semarang dan Yogya.

Menikmati Wisata Air Klaten

SEJUMLAH anak-anak melompat dari atas jembatan yang membelah Kali Pusur. Dengan telanjang dada, mereka menikmati air arus yang berasal dari mata air Ingas, Cokro, Klaten. Sedangkan di dasar tebing sungai yang curam, tempat bermuaranya air dari Kali Pusur, dua pasang remaja tampak memadu kasih. Sepasang remaja lainnya beranjak dari bibir Kali Pusur, lalu berjalan sambil sang lelaki merangkul teman kencannya. Mereka menyeberangi jembatan gantung yang menghubungkan pintu masuk dengan Kali Pusur.

Suasana asri, riang, sekaligus romantis menjadi bagian dari suasana wisata air di Ingas, Klaten. Lokasi wisata “mandi air suci” yang mengalir dari mata air Ingas tersebut, cocok untuk melepas jenuh, penat bagi keluarga kecil atau perorangan. Alamnya asli dan belum banyak direnovasi sehingga terkesan apa adanya, menjadikan kelebihan wilayah ini.

Selama ini wisata air Ingas terbagi dua yakni kolam renang modern yang dilengkapi sarana layaknya tempat renang dan kolam alami yang berbentuk sungai lebar tiga meter dan memanjang dari arah barat daya ke timur.

Kolam alami kedua ini yang dilukiskan di muka dengan suasana asri dan romantis. Dari sungai alami ini, air mengalir dan terjun ke muara sungai yang besar dan berbatuan. Sungai besar ini bisa dilihat dari atas jembatan gantung yang menghubungkan pintu masuk dengan air Kali Pusur. Pemandangan pasangan remaja sedang “menguasai” dunia terlihat jelas dengan mata telanjang. Mereka makin terlena dan asyik bila sambil menikmati jagung bakar yang tersedia di pinggir Ingas. Ibu-ibu setempat menyediakan jagung yang dibakar di lokasi renang dan dinikmati di sela berenang atau saat santai di bawah jembatan gantung Ingas.

Selama ini, Ingas lebih dikenal sebagai sungai suci yang mirip sungai Gangga di India. Wisatawan datang untuk membuang kotoran atau najis yang melekat di sekujur tubuh. Mereka membersihkannya pada momen yang dinamakan “padusan” (bahasa Jawa dari akar adus yang artinya mandi), berlangsung sehari menjelang Ramadan atau hari besar Islam tertentu saja.

Kaum adam dan hawa dari berbagai sudut desa dan kota berbaur dalam kolam air di kolam renang maupun kolam alami dalam suasana riang dan penuh canda. Ada keyakinan dari masyarakat sekitar bahwa air suci Ingas bisa lebih magis untuk bersuci sehingga puasanya selama sebulan akan lancar dan penuh berkah.

Area wisata air ini masuk wilayah Desa Cokro, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten. Kesucian air Ingas dijamin oleh tingkat debit airnya yang mencapai sekitar 1.500 liter per detik.

Jaringan

Debit air yang tinggi, tentu saja menjadi sumber air bagi seluruh masyarakat Klaten, bahkan masyarakat Surakarta. Oleh karena itu, sungai Ingas memiliki fungsi ganda, sebagai lokasi wisata air suci sekaligus simbol air sebagai sumber kehidupan warga Klaten dan Surakarta.

Bila ke Ingas, wisatawan tidak saja menikmati sumber air suci yang sangat jernih dan kolam mandi alami. Di sana bisa belajar dan memahami seputar instalasi jaringan air PDAM Klaten dan Surakarta, yang dikembangkan sejak Paku Buwono ke-X pada 1938. Tidak hanya itu, masyarakat petani juga memanfaatkan air ini sebagai sarana irigasi sawah.

Apakah air Ingas tetap suci bila digunakan renang? Sistem drainase di daerah ini sudah cukup bagus, dengan pintu air manual yang berfungsi untuk mengatur debit air keluar, menjamin kebersihan air. Demikian pula pelimpahan permukaan yang berasal dari persawahan dan perumahan di atasnya dapat ditampung di sungai Pusur sekaligus sebagai jaringan Irigasi untuk areal persawahan.

Modern

Perpaduan air Ingas dan lingkungan alam yang alami menyimpan potensi untuk wisata alam klasik. Namun, pemerintah Kabupaten Klaten merancang akan memodernisasi area wisata air ini. Tujuannya, mengatrol pendapatan asli daerah (PAD) dan pengembangan agroindustri seperti tanaman bunga, buah, perikanan.

Sebagai pendukung wisata, akan dikembangkan industri kerajinan, rumah makan, penginapan, pemandu wisata transportasi, dan lain-lain.

Tidak hanya itu. Wisata air ini dirancang pengembangannya menjadi objek klasik sekaligus modern. Konsep terpadu ini diejawantahkan dalam bentuk museum sejarah dan pengetahuan tentang PDAM, hutan wisata, waterboom, panggung/teater terbuka, dan lain-lain. Konsep pengembangan tersebut mereka namakan sebagai pengembangan produk wisata tematik berupa wisata air, ekologi mata air, kawasan hijau, ekologi sungai, dan budaya pedesaan atau wisata minat khusus.

Apabila fasilitas pendukung dan pengembangan dapat dilengkapi, pemerintah Kabupaten Klaten mengunggulkan objek Ingas menjadi wisata andalan. Walaupun pengembangan kawasan wisata terpadu baru mulai 2008, embrio wisata air Ingas sudah dapat dinikmati. Untuk menjangkau tempat tersebut sangat mudah, dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Rutenya bagi wisatawan dari arah Barat melalui Klaten, Karanganom,Tulung, Sumber Air Ingas. Atau Delanggu, Polanharjo, Sumber Air Ingas. Atau Klaten ke Jatinom, Tulung, hingga Sumber Air Ingas. Jalur lainnya Banyudono, Boyolali, Tulung, Sumber Air Ingas.

WISATA ALAM NAN ELOK DI KLATEN

Sumber Air Ingas
Sumber Air Ingas, Obyek wisata Sumber Air Ingas memiliki luas ± 15.000 m2 terbentang dipinggiran kali Pusur yang mengalir dari barat ke timur, sehingga pengunjung yang akan memasuki obyek wisata ini harus meniti jembatan gantung yang justru merupakan daya tarik sendiri dari obyek obyek wisata yang lain. Sumber Air Ingas dengan panorama alamnya yang sejuk dan indah, dan juga disini ada kolam renang, warung warung untuk santai serta lahan untuk tempat peristirahatan yang teduh di bawah rindangnya pepohonan yang besar dan kicauan burung. Obyek wisata ini sangat ramai apabila menjelang bulan puasa tiba banyak pengunjung yang padusan di obyek ini dengan kepercayaan bahwa puasanya akan dapat lancer tanpa halangan suatu apapun harinya yaitu (H -2). Dari prasarana yang ada Obyek Wisata ini dapat dicapai melalui : – Klaten – Karanganom – Tulung – Sumber Air Ingas ; – Delanggu – Polanharjo – Sumber Air Ingas; – Klaten – Jatinom – Tulung – Sumber Air Ingas; – Banyudono – Boyolali – Tulung – Sumber Air Ingas. Jarak ± 17km kearah utara dari kota Klaten Terletak Di Desa Cokro Kecamatan Tulung. Luas Kawasan 15.000 m2 Fungsi Sebagai tempat rekreasi, dan air dipergunakan untuk air minum Kraton Surakarta Hadiningrat atas prakarsa Paku Buwono ke

Pemandian ponggok
Pemandian ponggok, Terletak di Desa ponggok, Kecamatan Polanharjo Jarak dari kota Klaten ± 10 km Luas 600m2 Kedalaman rata rata 1,5 m Fungsi sebagai permandian alam dan pengairan

Pemandian Lumban Tirto
Pemandian Lumban Tirto, Terletak di Desa Daleman, Kecamatan Tulung Jarak dari kota Klaten ± 17km Luas 25m x 8m = 200m2 Luas kawasan 700m2 Kedalaman rata rata 1,5m Fungsi sebagai kolam renang Disebelah barat laut lokasi pemandian Lumban Tirto tersebut terdapat Umbul Ingas dengan pemandangan panorama yang bagus, disini sumber air ini digunakan untuk air minum Kraton Surakarta Hadiningrat atas prakarsa Paku Buwono X hingga sekarang

Sendang Tretes
Sendang Tretes, Terletak di Desa Ngraden, Kecamatan Wonosari Jarak dari kota Klaten ± 15 km Luas sendang 400 m2 Kedalaman rata rata 2 m

Pemandian Jolotundo
Pemandian Jolotundo, Terletak di Desa Jambeyan, Kecamatan Karanganom Jarak dari kota Klaten ± 8 km Luas 11m x 20m = 220m2 Luas kawasan 500m2 Kedalaman rata rata 2 m Fungsi sebagai tempat permandian

Umbul Tirto Mulyono dan Tirto Mulyani
Umbul Tirto Mulyono dan Tirto Mulyani, Terletak di Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum Jarak dari kota Klaten ± 6 km Luas 400m2 Luas kawasan 700m2 Kedalaman rata rata 1,5 m Fungsi sebagai permandian alam Luas 400m2 Kedalaman rata rata 75 cm Fungsinya Sebagai pemandian dan cuci bagi penduduk sekitarnya. Ciri Khas Ada patung Budha ditempat pemandian, konon menurut cerita Sendang / Pemandian tersebut dihuni oleh ular naga yang menggangu kehidupan masyarakat karena setiap adakambing yang lewat pasti di mangsa atau di telan.

Sendang Plampeyan
Sendang Plampeyan, Terletak di Kalurahan Jatinom, Kecamatan Jatinom Jarak dari kota Klaten ± 12 km Luas 4m x 4m = 16m2 Kedalaman rata rata 1 m Fungsi sebagai tempat mandi dan rekreasi

Sendang Gotan
Sendang Gotan, Terletak di dukuh Gotan, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom Jarak dari kota Klaten ± 5 km Luas sendang 250m2 Kedalaman rata rata 1,5 m Fungsi sebagai tempat mandi dan air minum

Sendang Riyo Manggolo
Sendang Riyo Manggolo, Terletak di Desa Kajoran Kriyan Desa Jimbung, Kecamatan Klaten Selatan Jarak dari kota Klaten ± 5 km Luas sendang 150m2 Luas kawasan 1.000m2 Kedalaman rata rata 1,5 m

Sendang Bulus Jimbung
Sendang Bulus Jimbung, Sendang Bulus Jimbung dihuni Kyai dan Nyai Poleng, yang pada waktu itu Kyai Poleng dan Nyai Poleng adalah abdi dari Dewi Mahdi yang kemudian disabda menjadi bulus lalu Pangeran jimbung menancapkan tongkatnya dan terjadilah sendang yang namanya Sendang Bulus Jimbung. Karena tempat berdiamnya bulus Kyai Poleng dan Nyai Remeng, menurut cerita barang siapa dating ke Sendang Bulus Jimbung untuk meminta kekayaan, bila permohonannya terkabul badannya akan menjadi Poleng seperti Bulus Jimbung.

Sendang Maerokoco
Sendang Maerokoco, Terletak di Desa Paseban, Kecamatan Bayat Jarak dari kota Klaten ± 12 km Luas sendang 200 m2 Kedalaman rata rata 1,5 m Manfaat untuk bersuci sebelum dan sesudah berziarah

Sendang Tretes
Sendang Tretes, Terletak di Desa Ngraden, Kecamatan Wonosari Jarak dari kota Klaten ± 15 km Luas sendang 400 m2 Kedalaman rata rata 2 m

Sendang Sinongko
Sendang Sinongko, Terletak di Desa Pokak, Kecamatan Ceper diantara jalan Yogya – Surakarta keselatan, 37 km dari yogya. Jarak dari kota Klaten ± 7 km Luas kawasan 1ha Kedalaman rata rata 1 m Besarnya debit air ± 260 lt / detik Sendang lanang ± 45,65 lt / detik Sendang wadon dan embung ± 34,15 lt / detik

Rowo Jombor
Rowo Jombor , Rowo jombor terletak di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat yang dilator belakangi oleh pegunungan kapur. Jarak ± 8 km kea rah tenggara dari kota Klaten Luas Kawasan 198 ha Panjang Tanggul 7,5 km Lebar Tanggul 12 m Kedalam 4,5 m Daya Tampung Air 4.000.000 m3 ::::::::::::: Tiket Masuk Mahal Rp 10.000;00 :::::::::::: Sering nggo Mesum ::::::::::: Menurut cerita penduduk sejak dahulu kala ( tidak di sebut tanggal dan tahunnya) ada upacara getekan di Rowo Jombor tersebut yang bertepatan dengan upacara Syawalan di Sendang Bulus Jimbung dan sampai sekarang banyak di kunjungi oleh wisatawan. Prasarana jalan menuju Obyek Wisata Rowo Jombor dapat dicapai : – Klaten Bendogantungan Puslatpur Jimbung Rowo Jombor; – Stasiun Kota Klaten Buntalan Jimbung Rowo Jombor; – Terminal Colt Karangwuni Pedan Cawas Bayat Rowo Jombor Kondisi jalan cukup baik, beraspal sampai tujuan.

Deles Indah
Deles Indah, Deles Indah merupakan Obyek Wisata yang terletak di lereng kaki gunung Merapi sebelah timur ± 25 km dari Kota Klaten, Deles berada di Wilayah Desa Sidorejom Kecamatan Kemalang, dengan ketinggian antara 800 m – 1300 m diatas permukaan laut Deles mempunyai potensi spesifik suasana pemandangan alam pegunungan. Dari obyek wisata deles dapat dilihat pemandangan puncak Merapi dengan nyata, pemandangan kota Klaten yang dihiasi dengan cerobong Perusahaan Gula gondang Baru & perusahaan Ceper Baru dengan berselendangkan Rowo Jombor dengan Jajaran Gunung Kapurnya merupakan Panorama yang Indah.

Satu Tanggapan

  1. Di Kecamatan Tulung sebelah timur terdapat serangkaian tempat bermunculannya mata air pegunungan yang mengalir sepanjang tahun, dan dijadikan obyek wisata. Wisata yang bisa dinikmati di sana adalah wisata memancing dan pemandian air segar. Banyak tempat pemandian yang bisa dikunjungi baik yang berbayar maupun tidak berbayar, seperti Umbul Nilo (gratis), Umbul Penganten (gratis),

    umbul nilo memiliki sejarah menarik, disekitar nya juga banyak umbuk-umbul lain, (umbul pule, umbul kepoh, umbul wedi, umbul pelem, umbul nganten dll )saya waktu kecil sering mengintip orang yang mandi (kungkum) dimalam tanggal 1 suro diumbul pitu ( 7 umbul) , bukan ingin tahu orang mandi telanjang tapi ingin mengambil sesajennya ( biasanya rokok)

    Pemancingan janti airnya berasal dari umbul nilo dan umbul kepoh disitu juga ada perusahaan pembibitan ikan (PMA kalu tidak salah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: