WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

download MP3 : WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)

Foto foto kekejian Israel (part-4)

Pembantaian Baru: Artileri Israel Habisi Satu Keluarga di Jabalia

Gaza – Infopalestina: Serangan artileri Zionis Israel memusnahkan seluruh anggota sebuah keluarga Palestina di timur kamp pengungsi Jabaliya. Sabtu (10/01) pagi, pasukan artileri Israel melancarkan serangan ke rumah-rumah warga di timur kamp pengungsi Jabaliya.

Sumber-sumber lokal menyebutkan 7 anggota keluarga Abdu Rabih meregang nyawa setelah tembakan artileri Israel menghantam rumah mereka. Sementara itu seorang warga dari keluarga Albaba, dekat rumah keluarga Abdu Rabih, juga gugur dalam serangan yang sama.

Sumber-sumber ini menyabutkan kedelapan korban yang meninggal ini jasadnya sampai ke rumah sakit Kamal Adwan di utara Jalur Gaza dengan kondisi tidak utuh dan tercabik-cabik.

Perlu disebutkan bahwa pasukan penjajah Zionis Israel segaja menyerang keluarga-keluarga Palestina dan menghabisi seluruh anggota keluarganya dalam kejahatan yang nampak sebagai “perang pemusnahan keluarga”. Sebelumnya, pasukan Israel menghabisi seluruh anggota keluarga Ba’lusha dan membunuh 4 orang anaknya. Pasukan Israel juga membantai lebih 30 warga dari keluarga el Samuni di timur kampung Zaitun saat mereka ditahan di satu rumah kemudian dihujani dengan tembakan artileri. (seto)

sumber : http://butterflyluph.blogspot.com

Foto2 korban perang :

‘Let her cry for her family’

‘A dangerous terrorist member of Kassem troups

'Let her cry for her family' by freegazaorg

'A dangerous terrorist member of Kassem troups by freegazaorg

‘Gazan terrorist brother and sister’

‘An injured Gazan terrorist’

'Gazan terrorist brother and sister' by freegazaorg

'An injured Gazan terrorist' by freegazaorg

‘Some terrorists will never be able to terrify Israel again’

‘Terrorist hunted down’

'Some terrorists will never be able to terrify Israel again' by freegazaorg

'Terrorist hunted down' by freegazaorg

Anyone can see this photo AttributionNo Derivative Works

‘Let him cry for his family’

‘Terrorists hunted down by Apache helicopters’

'Let him cry for his family' by freegazaorg

'Terrorists hunted down by Apache helicopters' by freegazaorg

‘One more terrorist hunted down’

‘Some terrorists have been injured and will not be able to keep terrifying Israel

'One more terrorist hunted down' by freegazaorg

'Some terrorists have been injured and will not be able to keep terrifying Israel by freegazaorg

‘Some terrorists were hunted down by smart bombs’

He was running, causing fear to Israeli people

'Some terrorists were hunted down by smart bombs' by freegazaorg

He was running, causing fear to Israeli people by freegazaorg

Hunted with her family by an airstrike on thier house

‘He is all terror’

Hunted with her family by an airstrike on thier house by freegazaorg

'He is all terror' by freegazaorg

Destruction in Rafah – Jenny

Unexploded missile – Jenny

Destruction in Rafah - Jenny by freegazaorg

Anyone can see this photo AttributionNo Derivative Works

Unexploded missile  - Jenny by freegazaorg

Anyone can see this photo AttributionNo Derivative Works

Leaving their homes for where? – Jenny

Children’s clothing left – Jenny

Leaving their homes for where? - Jenny by freegazaorg

Anyone can see this photo Attribution

Children's clothing left - Jenny by freegazaorg

Anyone can see this photo Attribution

Bodies of Palestinians killed during Israel's offensive are seen in the morgue of Shifa hospital in Gaza City January 15, 2009. Israeli tanks and artillery pounded the city of Gaza on Thursday in the most relentless shelling in nearly three weeks of fighting, despite some signs of progress in international efforts to bring about a ceasefire. From Reuters Pictures by REUTERS.


Palestinians carry the bodies of family members of Hamas Interior Minister Saeed Seyyam during their joint funeral in Gaza City January 16, 2009. Israel said its Gaza offensive could be "in the final act" on Friday and sent envoys to discuss truce terms after Hamas made a ceasefire offer to end three weeks of fighting that has killed more than 1,100 Palestinians. An Israeli air strike on Thursday killed one of Hamas's top leaders, Seyyam, the interior minister in Gaza's unrecognised government and leader of 13,000 armed security men. From Reuters Pictures by REUTERS.

Activists act as dead bodies, during a protest against Israeli attacks on Gaza, in front of the de-facto Israeli embassy in Taipei January 16, 2009. Israel unleashed its heaviest shelling of Gaza's crowded neighbourhoods on Thursday, hitting a U.N. compound and a media building in what might be a final push against Hamas before a ceasefire deal. From Reuters Pictures by REUTERS.

People look at the bodies of Palestinians killed during Israel's offensive, at Shifa hospital in Gaza City January 15, 2009. Israeli tanks and artillery pounded the city of Gaza on Thursday in the most relentless shelling in nearly three weeks of fighting, despite some signs of progress in international efforts to bring about a ceasefire. From Reuters Pictures by REUTERS.

Muslim women hold bundles of white clothes symbolizing dead bodies during a protest against Israeli attacks in Gaza, outside the US embassy in Kuala Lumpur on January 16, 2009. About 400 Muslim protesters gathered outside the US embassy, shouting anti-Israeli slogans and burning Israeli flags. From Getty Images by AFP/Getty Images.

Mourners pray beside the bodies of Palestinians killed during Israel's offensive, in Beit Lahiya in the northern Gaza Strip January 15, 2009. Israeli forces pushed deeper into Gaza city on Thursday and unleashed their heaviest shelling of its crowded neighbourhoods in three weeks of war, stepping up pressure on Islamist Hamas as both sides weighed a ceasefire. From Reuters Pictures by REUTERS.Palestinians carry the bodies of two girls killed during Israel's offensive, during their funeral in Beit Lahiya in the northern Gaza Strip January 15, 2009. Israeli forces pushed deeper into Gaza city on Thursday and unleashed their heaviest shelling of its crowded neighbourhoods in three weeks of war, stepping up pressure on Islamist Hamas as both sides weighed a ceasefire. From Reuters Pictures by REUTERS.

Henry Ford dan Protokol Yahudi

Asro Kamal Rokan

Situasi rakyat Palestina di Jalur Gaza semakin mengkhawatirkan. Palang Merah Internasional (ICRC) dalam laporannya menyebutkan, korban-korban- -termasuk anak-anak dan orang-orang tua yang luka kemungkinan akan menemui ajalnya. Ini karena ambulans Bulan Sabit Merah tidak dapat mencapai mereka karena serangan Israel yang tidak berhenti. Rumah sakit mulai tidak berfungsi karena pasokan bahan bakar minyak ke generator terhenti.

Tidak adanya pasokan listrik juga berakibat pada bayi-bayi Palestina. Tanpa listrik, pengatur udara tidak berfungsi, sedangkan suhu udara sangat dingin. Menurut organisasi kemanusiaan yang berpusat di Inggris, Save the Children, bayi-bayi yang baru lahir tersebut sangat berisiko terkena hypothermia.

Inilah tragedi kemanusiaan yang secara biadab dilakukan Israel. Meski dunia internasional kecuali Amerika Serikat mengutuk kebiadaban tersebut, namun Israel menikmatinya. Desakan internasional, di antaranya, dari Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, agar Israel melakukan gencatan senjata, telah ditolak Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert.

Tiga tahun lalu, saya menerima buku dari seorang sahabat. Buku itu berjudul The International Jew, yang ditulis Henry Ford, pendiri dan pemilik perusahaan mobil Ford Amerika Serikat. Dalam buku yang sempat dimusnahkan Yahudi AS itu, Henry Ford–yang membongkar kebusukan lobi Yahudi menyimpulkan, untuk mencapai tujuannya kalangan Yahudi menggunakan cara-cara sesuai karakter mereka, yakni: dominasi atau hancurkan!

Mereka telah gagal mendominasi Palestina karena perlawanan Hamas. Dan, kini mereka masuk pada tahap selanjutnya: hancurkan.Hari- hari ke depan, kita akan menyaksikan bagaimana mereka melakukan penghancuran di Palestina, seperti ketika Amerika Serikat yang dikendalikan lobi Yahudi menghancurkan Irak dan kemudian menguasainya.

Ford semula tidak begitu percaya keterlibatan Yahudi internasional dalam berbagai peperangan dan peristiwa besar di dunia. Ia melakukan penyelidikan, menggali fakta-fakta, dan menyewa investigator. Penyelidikan Ford ini kemudian dikenal sebagai Jewish Question. Dari penyelidikan itu, Ford yakin tangan-tangan Yahudi Internasional bermain dalam berbagai peristiwa dunia. Dan, menurutnya, tangan-tangan itu harus dipatahkan. ”Ancaman sesungguhnya bagi Amerika Serikat adalah Yahudi terpelajar itu,” kata Ford.

Melalui Dearborn Independent, surat kabar kecil yang dibelinya di Michigan, Ford menurunkan hasil investigasinya yang membeberkan kebusukan Yahudi Internasional di Amerika. Salah satu temuan Ford adalah Protokol Zionis. Dokumen ini berisi strategi Yahudi Internasional menguasai dunia, politik internasional, keuangan dan bisnis, media, dan juga budaya.

Publikasi terhadap Protokol Zionis tersebut menuai kecaman. Ford dianggap anti-Semit. Dokumen itu oleh kalangan Yahudi dinilai palsu. Ford tidak ingin terjebak perdebatan asli atau palsu. Ia mengatakan, ”… dari apa yang saya ketahui, semua yang terjadi sekarang ini di dunia, sesuai dengan isi dokumen itu.”

Artikel-artikel di surat kabar Dearborn Independent memicu kemarahan kalangan Yahudi. Mereka menuntut Ford minta maaf. Bisnisnya dipersulit sampai mengalami krisis keuangan. Dalam situasi sulit itu, Ford dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan mobil secara misterius. Pada 1977, artikel-artikel Ford itu dibukukan dalam The International Jew. Buku ini sempat menjadi buku terlaris, terjual lebih dari 10 juta copy. Kalangan Yahudi memborong buku ini, membakarnya, merazia toko-toko buku, dan bahkan mencurinya di perpustakaan untuk dimusnahkan.

Kini, Zionis Israel yang tangannya merambah ke seluruh dunia menghancurkan Palestina. Anak-anak menunggu ajalnya. Dunia Arab hampir tidak melakukan apa-apa. Mereka menjadi penonton Palestina dihancurkan. Dan, kita di sini sibuk dalam urusan politik dan bertengkar antarkita–yang jangan-jangan bagian dari protokol itu. Wallahu a’lam bishawab.

Bukan Bagian dari Kemanusiaan, Lalu Bagian dari Apa?

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Adalah Gilad Atzmon (46), mantan zionis dan angkatan udara Israel, sekarang pemusik jazz kenamaan di London. Sejak hijrah meninggalkan Yerusalem tahun 1994, ia sangat tajam menggambarkan serangan brutal dan biadab pasukan Israel di Jalur Gaza dalam sebuah artikelnya awal Januari 2009 dalamThe Palestine Chronicle on line.

Di mata Atzmon, kebiadaban, kekejaman, dan kezaliman adalah kultur politik Israel sejak negara itu terbentuk tahun 1948. Mengapa? Jawaban Atzmon singkat dan langsung: karena orang Israel bukan bagian dari kemanusiaan. Saya belum menemukan ungkapan telak semacam ini dari mana pun, kecuali dari Atzmon yang dengan gigih dan penuh risiko berjuang membela rakyat Palestina yang dicintainya.

Kepindahannya ke London disebabkan protes kerasnya terhadap kebrutalan Israel dalam praktik genosida untuk menghabisi dan memusnahkan rakyat Palestina dari muka bumi. Tetapi, pemusik Yahudi ini tidak pernah percaya bahwa cita-cita busuk itu akan berlaku. Bahkan, boleh jadi sebaliknya. Orang Yahudi Israel sedang menyiapkan diri untuk mengembara ke ujung bumi tanpa peta. Siapa yang tidak terharu membaca ungkapan puitis dari seorang mantan zionis ini yang meramalkan nasib terakhir dari zionisme?

Sudah lebih setengah abad pembantaian Israel terhadap rakyat Palestina, tetapi perlawanan rakyat Palestina tidak pernah berhenti, sekalipun dengan persenjataan ala kadarnya dibandingkan mesin perang Israel yang serbacanggih dengan bantuan cukongnya, Amerika Serikat. Atzmon menulis, “Rakyat Israel tidak paham dengan dasar pokok perjuangan Palestina. Karena itu, mereka bisa saja menafsirkan perjuangan Palestina sebagai sebuah kegilaan irasional pembunuh. Dalam alam Israel, seorang Israel adalah korban tak berdosa dan orang Palestina tak lebih dari seorang pembunuh ganas dan liar.”

Dalam perspektif semacam inilah, pasukan Israel dengan mata gelap telah membunuh bayi-bayi Palestina sambil bersorak-sorai. Atzmon melanjutkan, “Jelaslah, di pihak Israel tidak ada mitra untuk perdamaian.” Bukankah zionisme Israel di mata Atzmon tidak menjadi bagian dari kemanusiaan seperti yang terbaca di atas?

Lalu, bagian dari apa? Anda tafsirkan sendiri. Bagi saya, penggagas dan pendukung zionisme tidak lain dari makhluk berbentuk manusia. Kejahatannya melebihi perbuatan setan dan iblis walau makhluk halus ini tidak punya bom dan mesin perang supermodern. Tentara Israel sedang berpesta membunuh siapa saja yang menjadi sasaran bom dengan persenjataan yang serbacanggih dan mematikan. Sekalipun dunia pada umumnya hanya menonton dari kejauhan dengan demo dan protes di sana-sini, di lubuk hati yang paling dalam, umat manusia sudah semakin sadar dan paham bahwa Israel zionis dipimpin oleh makhluk serupa manusia, tetapi bukan manusia.

Dengan korban mati yang hampir 1000, rakyat Palestina dan dunia beradab semakin yakin bahwa kemerdekaan Palestina sudah semakin dekat dan tidak bisa dihambat oleh kekuatan apa pun. Sejarah memang sedang bergerak ke jurusan itu, sekalipun harus dibayar oleh nyawa bocah-bocah dan orang-orang tua yang tak berdaya. “Ya Allah, mohon kabulkan doa jutaan manusia di muka bumi agar Engkau hancurkan kekuatan kaum zionis dalam baju manusia, tetapi mereka tidak pernah menjadi manusia. Amin.”

Bersatu dan Boikot Israel

Gaza makin berdarah. Saudara-saudara muslim kita syahid berguguran. Kita semua di sini menontonnya dengan geram dan memutar otak apa yang bisa kita perbuat. Banyak yang tidak puas dengan menyumbangkan uang.

Tapi mengangkat senjata masih takut, mau pergi ke sana tak ada biaya. Yang paling bisa kita lakukan saat ini adalah berdo’a, memberi bantuan dana kemanusian, menyerukan dukungan untuk Palestina, menyebarkan informasi tentang penderitaan Palestina, dan yang tak kalah pentingnya adalah ‘boikot’.

Ternyata tak semua muslim memiliki pemikiran yang sama dengan ide ‘ boikot’ ini. Ada yang berfikir boikot adalah senjata makan tuan ( alias akan banyak pengangguran ). Ada yang beralasan kita masih tergantung produk Amerika. Sampai ada yang beralasan belum ‘rela’ untuk meninggalkan minuman kesayangannya ‘coca cola ‘ ataupun makanan kesayangannya’ Mac. Donald’. Enak sih

Padahal ini salah satu cara kita yang paling lemah dalam memerangi zionis.

Seperti yang kita tahu , sebagian besar persentase budget negara Amerika adalah untuk militer. Jadi dengan uangnya itu Amerika bisa menggerakkan militernya. Dan sebenarnya Amerika sendiri bukan pendukung agama yahudi. Mereka Kristen, bahkan Jesuspun diburu oleh Yahudi.
Tapi sektor-sektor penting perekonomian Amerika dipegang oleh orang Amerika yang beragama Yahudi. Sehingga mereka berpengaruh sampai ke politik, media, dan lain-lain.

Betapa berpengaruhnya ‘ uang ‘ pada perdamaian Timur tengah ini juga disampaikan Michael Moore, seorang sutradara sekaligus penulis dalam bukunya ‘ Stupid White Men’ yang menjadi bestseller di Amerika.

Dalam bukunya, Michael Moore menulis, “… berhenti mengucurkan uang (untuk Israel) dan mulai menyelesaikan konflik dengan dua kubu ( tanpa memihak satupun ) untuk menghentikan kekerasan.”
Ia juga mengatakan dalam bukunya ,” …pemerintah Amerika harus mengancam Israel untuk menghentikan agresinya dalam 30 hari atau Amerika menghentikan dananya untuk Israel. Aksi teroris yang dilakukan perorangan ( bom bunuh diri Palestina ) adalah hal yang buruk, tapi aksi teroris yang dilakukan negara ( Israel ) adalah sungguh-sungguh buruk …Anda dan saya ( warga Amerika ) dan jutaan pembayar pajak lainnya tanpa sadar menyumbang uang untuk agresi Israel. Agresi yang tidak akan ada jika 4 sen dari setiap paycheck kita tidak diambil guna membeli peluru-peluru yang mengisi senjata-senjata Israel untuk membunuhi anak-anak Palestina. Kalau Israel tetap ingin uang dollar kita, Israel harus diberi waktu satu tahun untuk bekerjasama dengan Palestina untuk mendirikan negara bernama ‘PALESTINA’ .
Amerika harus mengucurkan dananya untuk Palestina dua kali lipat dari jumlah dana yang selama ini dikucurkan untuk Israel dengan cara ‘ Marshal plan ‘ ( sumbangan langsung untuk membangun infrastruktur Palestina ).”

Seperti yang kita ketahui, dana Amerika untuk negara-negara asing yang paling besar adalah untuk Israel. Bukan Afrika atau negara miskin lainnya. Dan Israel ini dananya bukan cuma dari Amerika tapi juga dari seluruh pengusaha Yahudi yang tersebar di dunia. Tapi ingat, zionis ini tidak bisa berkutik tanpa uang. Itulah yang melatarbelakangi ide boikot.

Tapi tentunya saudara saudara kita yang lain juga punya pertimbangan dan pendapat yang berbeda. Salah satu alasan ‘ senjata makan tuan’ atau banyaknya pengangguran di negara sendiri karena boikot, juga menjadi salah satu ke ’tidak pede’-an yang masuk akal. Tapi, andaikan semua negara Islam bersatu . Karena kuncinya, yaitu persatuan negara negara Islam. Terutama negara negara timur tengah yang kaya. Sulit untuk menutup atau membuat bangkrut perusaan-perusahaan pembantu zionis begitu saja tanpa adanya kerja sama dari negara negara kaya di Timur Tengah.

Tapi kalau saja Saudi Arabia dan negara negara kaya Islam bersatu, menentang Amerika tanpa malu-malu atau takut, semua jadi mungkin. Tak usahlah Saudi Arabia ikut-ikutan boikot. Coba tutup saja satu korporasi dengan Amerika. Sebut saja minyak. Wah, itu sudah membuat perubahan besar . Dan kalau kiblat umat Islam ini berbuat demikian, negara sekitarnya akan jadi pede juga.

Apalagi kalau Saudi Arabia berani memutuskan perdagangan dengan perusahaan zionis-Amerika. Lalu bersama-sama memecahkan masalah di atas meja dengan semua negara Islam. Mengucurkan dana mereka untuk perubahan itu. Kita negara negara Islam ganti produk-produk zionis dengan produk non Zionis. Insya Allah, Jepang, Perancis, Jerman, Rusia, Cina, dan lain-lain, mereka akan berebutan masuk kepasaran kita . Berebut menarik perhatian kita. Bersaing dengan mutu mereka dan harga mereka.

Dan kalau saja negara Islam bersatu, bukan saja memperkuat negara-negara Islam, tapi juga perekonomian Asia. Memang pasti pada awalnya akan ada yang harus dikorbankan. Tapi kalau kunci-kunci negara Islam bersatu, mengucurkan dana untuk perubahan tersebut, kerugiannya bisa berkurang. Dan insya Allah seterusnya akan berdampak postif bagi negara-negara Islam dan Asia sendiri.

Kalau kita terus di sini, tidak bergerak dan menganggap bahwa kenyataan adalah bergantung pada produk dan perusahaan zionis-Amerika, yah di sinilah kita seterusnya. Memang tidak ada yang akan kehilangan pekerjaan. Sebaliknya, bahkan karyawan kita akan semakin banyak. Bekerja memakmurkan perusahaan zionis. Dan zionis akan semakin diuntungkan, umat Islam semakin diinjak-injak.

Semoga Allah memberikan kita umat Islam kekuatan dan keberanian untuk bersatu. Dan Palestina, hati kami selalu bersamamu…

sumber : milis cah_delanggu

Tak ada tempat aman bagi anak-anak di Gaza. PBB menyebut, sudah 257 anak terbunuh, 1080 terluka sejak serangan ganas Israel

Hidayatullah, com–Tubuh-tubuh kecil terbaring kaku terbungkus kain kafan putih. Wajah tak berdosa seorang anak pra-sekolah yang sudah mati menyembul dari reruntuhan puing-puing rumahnya. Seorang pria meratapi anak laki-laki yang terluka di UGD setelah Israel menghancurkan sebuah sekolah PBB.

Inilah korban sebuah perang sesungguhnya. Dalam perang Israel-Hamas, anak-anak yang berjumlah lebih dari separuh penduduk Gaza menjadi korban yang paling tak berdaya. Foto Kaukab Al Dayah yang berusia 4 tahun, dengan tangan menutup kepalanya dari reruntuhan rumahnya, muncul di berbagai halaman depan media massa dunia Arab, Rabu (7/1).

”Ini Israel” demikian judul harian Mesir Al-Masry Al-Youm. Anak pra-sekolah ini terbunuh Selasa dini hari ketika sebuah F-16 menyerang rumah berlantai empat milik keluarganya di kota Gaza. Dalam peristiwa itu, empat orang dewasa juga tewas.

Menurut angka yang dikeluarkan PBB, Kamis (8/1), sebanyak 257 anak terbunuh dan 1080 terluka–sekitar sepertiga dari korban jiwa sejak 27 Desember 2008.

Sementara itu, dari Gaza dilaporkan, seorang pria dengan bocah lelaki yang terluka dipelukannya, terlihat berlari menuju rumah sakit, Kamis (8/1). Suasana kacau tampak jelas setelah penyerangan Israel ke sekolah-sekolah yang dikelola PBB. Sedikitnya 50 siswa dilaporkan tewas akibat insiden penyerangan sekolah.

Kaukab menjadi korban saat pesawat F-16 Israel menyerang Gaza, Selasa (6/1), menghancurkan rumah keluarganya. Bersama Kaukab juga tewas empat orang dewasa, dua di antaranya adalah orangtua dan keluarganya yang lain.

Iyad Sarraj, seorang psikolog yang tinggal bersama empat anak angkatnya di sebuah apartemen di Gaza, mengatakan, banyaknya anak-anak yang menjadi korban, memperlihatkan tidak ada lagi tempat yang aman di setiap sudut Gaza, di mana para orangtua pun tidak mampu melindungi anak-anak mereka.

Israel mengklaim, penyerangan yang dilakukan adalah terhadap pejuang Hamas, sebagai jawaban atas serangan roket yang dilakukan Hamas ke Selatan Israel. Namun realitasnya, banyak pihak mencatat, warga sipil tidak dapat melarikan diri dari blokade Gaza dan wilayah yang menjadi sasaran penyerangan Israel adalah permukiman sipil.

Militer Israel menggunakan tank, kendaraan artileri, dan pesawat tempur.

Kendati demikian, sebagian anak-anak Palestina tidak takut. Pada sebuah kamp pengungsian di Shati, 10 bocah lelaki sedang bermain sepakbola di lapangan, saat sebuah bom dari kapal Israel menghantam penjara Hamas, yang berada dekat dengan bocah-bocah itu bermain.

Mendengar suara ledakan, salah satu bocah bersiul untuk memberi tanda agar menghentikan permainan. Para bocah itu segera mencari perlindungan, dengan bersembunyi di balik dinding bangunan terdekat. Setelah beberapa menit, mereka kembali melanjutkan permainan.

“Kamu kira kami tidak takut? Tentu saja kami sangat takut. Tapi, kami tidak bisa berbuat apa pun lagi, kecuali bermain,” kata seorang dari bocah itu yang berusia paling tua, Sami Hilal (14). Dia keluar dari rumah kakeknya secara diam-diam, untuk bertemu teman-temannya, agar kakeknya tidak khawatir akan dirinya.

Rumah kakeknya itu juga dipenuhi banyak keluarganya yang mengungsi dari tempat lain, yang lebih berbahaya. Seorang bocah lainnya, Yaser (13), memilih tidak berusaha mencari perlindungan, sebaliknya melambaikan tangan pada kapal Israel tak berawak. “Tidak ada yang bisa kita lakukan. Bahkan, jika kita melarikan diri ke sana atau ke situ, peluru mereka lebih cepat dari kami,” ucapnya.

Kenyataan itu menggambarkan betapa seluruh wilayah Gaza telah menjadi wilayah berbahaya. Anak-anak tewas saat berada di rumah mereka, di kendaraan bersama orangtuanya, ataupun yang sedang bermain di jalan-jalan, di toko, bahkan di tempat perlindungan yang dikelola PBB.

Sayed (12), Mohammed (8), dan Raida Abu Aisheh (7), ada di rumah bersama orangtua mereka, saat serangan udara Israel terjadi, Senin (5/1) dan belakangan diketahui menewaskan satu keluarga itu.

Tak Ada Tempat Aman

Hal yang paling sulit bagi anak-anak ini adalah perasaan bahwa tak ada lagi tempat yang aman dan orang dewasa tidak dapat melindungi mereka, kata Iyad Sarraj, seorang psikolog yang bersembunyi di apartemennya di kota Gaza dengan empat anak tirinya yang berusia 3 hingga 17 tahun. Putranya, Adam (10), begitu ketakutan selama serangan bom dan asmanya kambuh, kata Sarraj.

Israel mengatakan serangan mereka menargetkan Hamas dalam menjawab serangan roket yang berulang di Israel selatan dan melakukan segala hal untuk menghindari kematian sipil. Namun, ucapan Israel ini tentu saja sulit diwujudkan. Dalam sebuah perang, apalagi perang di dalam kota, warga sipil pun tak bisa menghindar dari peluru, bom ataupun roket yang ditembakkan. Menurut pejabat misi kemanusiaan asing, warga sipil tak dapat meloloskan diri dari Gaza yang terkepung dan mengebom kawasan padat pastilah menyebabkan banyak korban sipil. Militer Israel menggunakan tank dan granat artileri, juga bom-bom udara.

Di kamp pengungsian Shati di Mediterrania, sepuluh anak laki-laki sedang bermain sepakbola di sebuah lorong, Kamis, ketika granat dari sebuah kapal meriam menghantam area dekat penjara Hamas. Ketika ledakan terdengar, salah satu anak tertua bersiul, sebuah pertanda permainan harus dihentikan dan mereka segera merapat ke tembok. Setelah satu atau dua menit, permainan dilanjutkan.

Samih Hilal (14) mengatakan ia mengendap-endap ke luar rumah kakeknya. Ia dilarang bermain di luar oleh ayahnya yang cemas. Rumah yang ia tinggali penuh dengan kerabat yang melarikan diri dari kawasan yang lebih berbahaya, katanya. Ia tidak bisa berdiam diri selama berjam-jam.

”Anda pikir kami tidak takut? Ya, kami takut. Tapi kami tidak punya apa-apa selain bermain,” kata Samih.

Anak laki-laki lain, Yasser berusia 13 tahun, melambai-lambai ke arah pesawat-pesawat Israel tanpa awak, dengan bahasa tubuh menantang. Ia tidak berusaha mencari perlindungan dari hujan granat.

”Tak ada yang bisa kami lakukan. Bahkan jika kami berlari ke sana dan kemari, bom-bom mereka lebih cepat ketimbang kami,” katanya.

Yasser benar, tak ada tempat aman di Gaza. Anak-anak bisa saja terbunuh di rumah mereka, atau selagi menumpang mobil dengan orangtua, atau saat bermain di jalanan, berbelanja, atau bahkan di tempat perlindungan PBB.

Yang dibutuhkan anak-anak itu kini adalah kebijaksanaan dari pihak-pihak yang bertikai untuk berdamai, memberi ruang untuk mereka agar tumbuh dengan baik, hidup tanpa dendam yang tak berkesudahan demi membalas kematian orang-orang yang mereka cintai.

Tubuh-tubuh kecil mereka perlu berkembang di ruang yang sehat, tanpa ketakutan akan peluru-peluru yang meluncur deras dan mengenai mereka. Sesungguhnya, korban dari sebuah perang adalah anak-anak. [ant/ap/www.hidayatullah. com]

( foto2 ada di artikel lain blog ini )

Foto foto Kekejian Israel (part-3)

MIDEAST-PALESTINIAN-ISRAEL-GAZA-HOSPITAL by pinkturtle2.

Palestinian medics carry the bodies of two children, killed by an Israeli tank shell early on January 5, 2009, upon their arrival at the mortuary of Gaza City’s Al-Shifa hospital. Five children were killed in two separate Israeli strikes in Gaza early today, Palestinian medics said. AFP PHOTO/MAHMUD HAMS (Photo credit should read MAHMUD HAMS/AFP/Getty Images)

PALESTINIANS-ISRAEL/SHELLING by pinkturtle2.

A Palestinian man reacts in front of the bodies of three children killed by an Israeli tank shell, one of them his son, at Shifa hospital in Gaza January 5, 2009. An Israeli tank shell killed three Palestinian children in their home in eastern Gaza City on Monday, medical officials said. They said several other Palestinians were wounded in the incident in Gaza’s Zeitoun neighbourhood. An Israeli military spokeswoman said she was checking the report. REUTERS/Suhaib Salem (GAZA)

AK0001_GAZA_ by pinkturtle2.

GAZA CITY, GAZA STRIP – DECEMBER 27: (EDITOR’S NOTE: THIS IMAGE CONTAINS GRAPHIC CONTENT) The body of Tawfeq Jaber (C) the general police chief in Gaza, who loyal to Hamas, lies among other bodies of Palestinians laid out on the ground outside Shifa hospital on December 27, 2008 in Gaza City, Gaza. Israel’s air force fired about 30 missiles at targets along the Gaza Strip on Saturday, destroying several Hamas police compounds, killing more than 200 people and wounding hundreds. (Photo by Abid Katib/Getty Images)

AK84130121 by pinkturtle2.

GAZA CITY, GAZA STRIP – DECEMBER 28: A wounded Palestinian boy is brought by car to the Al-Shifa hospital on December 28, 2008 in Gaza City, Gaza. On the second day of cross-border conflict, Israel’s air force continued to launch attacks along the Gaza Strip, destroying many buildings belonging to Hamas, including holy mosques, civilian homes and vehicles, work shops, police compounds and a prison, increasing the number of Palestians killed to over 270. (Photo by Abid Katib/Getty Images)

MIDEAST ISRAEL PALESTINIANS by pinkturtle2.

A Palestinian man reacts as he carries a girl who according to Palestinian medical sources was killed in an Israeli strike, into Shifa hospital in Gaza City, Monday, Jan. 5, 2009. Israeli forces pounded Gaza Strip houses, mosques and smuggling tunnels on Monday from the air, land and sea, killing at least seven children as they pressed a bruising offensive against Palestinian militants. (AP Photo/Khalil Hamra)

MIDEAST-PALESTINIAN-ISRAEL-GAZA-HOSPITAL by pinkturtle2.

The bodies of two Palestinian children, killed by an Israeli tank shell early on January 5, 2009, lie on the ground at the mortuary of Gaza City’s Al-Shifa hospital. Five children were killed in two separate Israeli strikes in Gaza early today, Palestinian medics said. AFP PHOTO/MAHMUD HAMS (Photo credit should read MAHMUD HAMS/AFP/Getty Images)
MIDEAST ISRAEL PALESTINIANS by pinkturtle2.

Palestinian medics carry a wounded man who according to Palestinian medical sources was injured in an Israeli strike, into Shifa hospital in Gaza City, Monday, Jan. 5, 2009. Israeli forces pounded Gaza Strip houses, mosques and smuggling tunnels on Monday from the air, land and sea, killing at least seven children as they pressed a bruising offensive against Palestinian militants. (AP Photo/Khalil Hamra)
APTOPIX MIDEAST ISRAEL PALESTINIANS by pinkturtle2.

Three Palestinian children from the Balosha family, of five who were all killed in the same Israeli missile strike, are seen in the morgue before their burial at Kamal Edwan hopsital in Beit Lahiya, northern Gaza Strip, Monday, Dec. 29, 2008. Israel’s overwhelming air campaign against the Gaza Strip inched closer to the territory’s Hamas rulers as the assault entered its third day Monday, as missiles struck a house next to the Hamas premier’s home and destroyed symbols of the Islamic movement’s power. (AP Photo/Eyad Baba)
AK0001_GAZA_ by pinkturtle2.

GAZA CITY, GAZA STRIP – DECEMBER 27: (EDITOR’S NOTE: THIS IMAGE CONTAINS GRAPHIC CONTENT) The Body of Tawfeq Jaber, the general police chief in Gaza, who was loyal to Hamas, is wheeled into Shifa hospital on December 27, 2008 in Gaza City, Gaza. Israel’s air force fired about 30 missiles at targets along the Gaza Strip on Saturday, destroying several Hamas police compounds, killing more than 200 people and wounding hundreds. (Photo by Abid Katib/Getty Images)
PALESTINIANS-ISRAEL/SHELLING by pinkturtle2.

A Palestinian baby wounded by an Israeli tank shell is treated by doctors at Shifa hospital in Gaza January 5, 2009. An Israeli tank shell killed three Palestinian children in their home in eastern Gaza City on Monday, medical officials said.They said several other Palestinians were wounded in the incident in Gaza’s Zeitoun neighbourhood. An Israeli military spokeswoman said she was checking the report. REUTERS/Suhaib Salem (GAZA)
PALESTINIANS-ISRAEL/ by pinkturtle2.

Palestinians clean the bodies of 4-year-old Lama Hamdan and her sister Haya before their funeral in the town of Beit Hanoun in the northern Gaza Strip December 30, 2008. Israel on Tuesday rejected any truce with Hamas Islamists in the Gaza Strip before cross-border rocket fire ceased and said its air strikes, the fiercest in decades, heralded “long weeks of military action”. In Beit Hanoun, the two sisters were killed in a air raid as they were taking out the trash near their home, medical workers said. REUTERS/Mohammed Salem (GAZA)

PALESTINIANS-ISRAEL/ by pinkturtle2.

Red Crescent officials move an injured Palestinian man into an ambulance in Rafah Strip December 29, 2008. Wounded Palestinians trickled one by one from Gaza into Egypt on Monday after a day and a half of confusion and disagreement between the Islamist movement Hamas and the Egyptian government. REUTERS/Amr Dalsh (EGYPT)
MIDEAST ISRAEL PALESTINIANS by pinkturtle2.

A Palestinian medic carries a wounded girl to the treatment room of Shifa hospital following an Israeli missile strike in Gaza City, Thursday, Jan. 1, 2009. More than 400 Gazans have been killed and some 1,700 have been wounded since Israel embarked on its aerial campaign, Gaza health officials said. (AP Photo/Ashraf Amra)
MIDEAST-PALESTINIAN-ISRAEL-GAZA-CONFLICT by pinkturtle2.

A Palestinian carries a wounded girl following an Israeli air strike in Gaza city on January 1, 2009. Israel killed a top Hamas commander on Thursday in the biggest blow yet against the Islamist leadership as dozens more air strikes on Gaza took the death toll from the six-day blitz above 400. AFP PHOTO/MOHAMMED AL-ZAANOUN (Photo credit should read MOHAMMED AL-ZAANOUN/AFP/Getty Images)

PALESTINIANS-ISRAEL/ by pinkturtle2.

Palestinian relatives of 4-year-old Lama Hamdan mourn near her body during her funeral in the town of Beit Hanoun in the northern Gaza Strip December 30, 2008. Israel on Tuesday rejected any truce with Hamas Islamists in the Gaza Strip before cross-border rocket fire ceased and said its air strikes, the fiercest in decades, heralded “long weeks of military action”. In Beit Hanoun, two sisters, one of them Lama Hamdan, were killed in an air raid as they were taking out the trash near their home, medical workers said. REUTERS/Mohammed Salem (GAZA)
PALESTINIANS-ISRAEL/SHELLING by pinkturtle2.

A Palestinian woman sits on the floor beside her baby wounded by an Israeli tank shell, at Shifa hospital in Gaza January 5, 2009. An Israeli tank shell killed three Palestinian children in their home in eastern Gaza City on Monday, medical officials said.They said several other Palestinians were wounded in the incident in Gaza’s Zeitoun neighbourhood. An Israeli military spokeswoman said she was checking the report. REUTERS/Suhaib Salem (GAZA)

MIDEAST ISRAEL PALESTINIANS by pinkturtle2.
Palestinians bodies are seen at the morgue of Shifa hospital, following an Israeli army operation, in Gaza City, Sunday, Jan. 4, 2009. Israeli ground troops and tanks cut swaths through the Gaza Strip early Sunday, cutting the coastal territory into two and surrounding its biggest city as the new phase of a devastating offensive against Hamas militants gained momentum. (AP Photo/Majed Hamdan)

PALESTINIANS-ISRAEL/SHELLING by pinkturtle2.

A Palestinian doctor carries the body of a child killed by an Israeli tank shell, at Shifa hospital in Gaza January 5, 2009. An Israeli tank shell killed three Palestinian children in their home in eastern Gaza City on Monday, medical officials said. They said several other Palestinians were wounded in the incident in Gaza’s Zeitoun neighbourhood. An Israeli military spokeswoman said she was checking the report. REUTERS/Suhaib Salem (GAZA)
PALESTINIANS-ISRAEL/ by pinkturtle2.

Palestinian medics carry the body of a boy, killed by an Israeli shell, at the hospital in Gaza January 4, 2009. Israeli troops and tanks split the Gaza Strip and ringed its main city on Sunday in an offensive against Hamas militants but civilians trapped in the Palestinian enclave suffered more bloodshed. At least 34 Palestinians, most of them civilians, were killed on Sunday as Israeli shells slammed into houses and Gaza’s main shopping district, medical sources said. REUTERS/Suhaib Salem (GAZA)

APTOPIX MIDEAST ISRAEL PALESTINIANS by pinkturtle2.

A Palestinian woman from the El Deeb family, who had ten relatives killed near a United Nations school Tuesday, weeps during their funeral in the Jebaliya refugee camp, in the northern Gaza Strip, Wednesday, Jan. 7, 2009. Israel’s military paused its Gaza offensive for three hours Wednesday to allow food and fuel to reach besieged Palestinians, and the country’s leaders debated whether to accept an international cease-fire plan or expand the assault against Hamas. With criticism rising of the operation’s spiraling civilian death toll and Gazans increasingly suffering the effects of nonstop airstrikes and shelling, Israel’s military said it opened “humanitarian corridors” to allow aid supplies to reach Palestinians.(AP Photo/Hatem Moussa)

MIDEAST ISRAEL PALESTINIANS by pinkturtle2.

Palestinians walk past a destroyed mosque in Beit Hanoun, northern Gaza Strip, Monday, Jan. 5, 2009. Israeli forces pounded Gaza Strip houses, mosques and smuggling tunnels on Monday from the air, land and sea, killing at least seven children as they pressed a bruising offensive against Palestinian militants. (AP Photo/Khalil Hamra)

PALESTINIANS-ISRAEL/ by pinkturtle2.

Smoke rises after an Israeli air strike in Rafah in the southern Gaza Strip January 5, 2009. Israeli tanks, planes and ground forces pounded Gaza on Monday and the defence minister said the offensive against Hamas militants in the Palestinian enclave would go on until Israel was safe. REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa (GAZA)

AK0001_GAZA_ by pinkturtle2.

GAZA CITY, GAZA STRIP – DECEMBER 28: A wounded Palestinian girl is carried into the Al-Shifa hospital on December 28, 2008 in Gaza City, Gaza. On the second day of cross-border conflict, Israel’s air force continued to launch attacks along the Gaza Strip, destroying many buildings belonging to Hamas, including holy mosques, civilian homes and vehicles, work shops, police compounds and a prison, increasing the number of Palestians killed to over 270. (Photo by Abid Katib/Getty Images)

MIDEAST-PALESTINIAN-ISRAEL-GAZA-HOSPITAL by pinkturtle2.

A wounded Palestinian woman waits for treatment at Gaza City’s Al-Shifa hospital on January 5, 2009. The Israeli air force hit 130 targets in Gaza overnight, an army spokesman said today with the Palestinian toll passing 510 early this morning. The fatalities included five children who were killed in two separate Israeli strikes in Gaza early today, Palestinian medics said. AFP PHOTO/MAHMUD HAMS (Photo credit should read MAHMUD HAMS/AFP/Getty Images)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.